ARTI HIDUP - Bagian13: Belajar

BAGIAN 13:

BELAJAR

"Hanyalah yang terpelajar yang bebas" Epictetus

"Pendidikan hanyalah hal yang menyelamatkan kita" George Clinton

"Jika pengetahuan dapat menimbulkan persoalan-persoalan, bukan melalui orang bodoh kita dapat memecahkan mereka" Isaac Asimov

"Lebih baik tidak dilahirkan daripada tidak diajari, bagi orang-orang bodohlah akar dari semua kemalangan" Aristole

Tanyakan teman anda pertanyaan ini: Apakah anda percaya bahwa pengetahuan itu penting?

Sangat banyak orang yang akan menjawab, "Ya" terhadap pertanyaan itu. Pada kenyataannya, jawabannya adalah sangat jelas, pertanyaannya adalah teoritis, bukan?

Jika itu adalah permasalahnya, maka mengapa ada sebegitu banyak orang yang masih bodoh di dunia ini? Mengapa setiap orang tidak membuatnya prioritas nomor satu dalam hidup mereka terhadap belajar pengetahuan sebanyak mungkin secara sistematis?. Mengapa beberapa orang bahkan meremehkan pengetahuan?. Mengapa ada orang yang membenci membaca? Mengapa orang-orang pandai dikasih lebel nama yang menghina seperti; "kurang sosial", "kutu buku", atau "pecandu?". Mengapa ada orang yang tidak menganjurkan anak mereka masuk perguruan tinggi?. Mengapa bahkan ada subkultural yang berpikir dingin untuk menjadi tidak berpengetahuan?

Itu mungkin nampaknya jelas bahwa pengetahuan itu penting, tetapi itu juga jelas bahwa masyarakat tidak mengerti bagaimana pentingnya pengetahuan itu, atau mengapa itu penting. Jadi meskipun mereka dapat mengakui secara terang-terangan bahwa itu penting, karena mereka sebenarnya tidak mengerti nilainya, mereka sebenarnya tidak menilainya. Karena mereka sebenarnya tidak menilainya, maka mereka tidak mencarinya, dan pada beberapa kasus mereka bahkan takut kepadanya.

Jadi, dalam memprotes kebodohan di sini pelajaran yang paling.penting anda tidak pernah pikirkan adalah sekolah: Mengapa pengetahuan itu penting?.

Pengetahuan adalah penting bagi manusia untuk dua sebab: perkembangan internal dan perilaku eksternal.

PERKEMBANGAN INTERNAL

Lihat badan anda di dalam cermin. Terlihat seperti bayangan tunggal, tetapi itu dapat dipecah menjadi sistem organ, organ-organ, daging, sel-sel, organel, protein, DNA, atom-atom, protons, neutrons, elektron-elektron, hadron, quark, fermion, lepton, gluon, dalsb. Badan anda merupakan suatu sistem yang kompleks yang akan dibagi ke dalam (pernah) lebih kecil dan bagian yang lebih fundamental.

Akal anda mempunyai cara yang sama. Segalanya yang membuat pikiran anda: Kepribadia, pemikiran-pemikiran, ide-ide, pendapat-pendapat, mimpi-mimpi, kekhawatiran-kekhawatiran, keinginan-keinginan, kenangan-kenangan, keahlian-keahlian, kosa kata, dll. yang terbentuk. Lebih berat massa badan yang anda miliki anda akan menjadi lebih besar, dan lebih banyak pengetahuan yang anda miliki akan lebih besar pemikiran yang akan anda miliki. Jadi, anda akan menjadi lebih besar.

Ini berarti bahwa untuk berkembang anda butuh belajar. Anda tidak dapat hanya menjadi tua dan semua tiba-tiba mengaku anda sudah besar. Jika anda hentikan belajar secara sistimatis setelah wisuda, maka itu bukan masalah berapa tahun anda berumur, tetapi anda berhenti berkembang atau tumbuh setelah anda keluar sekolah. Untuk itu, anda tidak pernah berkembang.

Bayangkan kepribadian seorang bayi. Kesampingkan dari emosi dan insting seorang bayi yang tidak memiliki kepribadian atau idntitas. Semua wajah mereka lucu/kesedihan adalah hasil dari insting, bukan kepribadian.

Sekarang bayangkan seorang anak berumur sepuluh tahun. Anak itu memiliki kepribadian tetapi sangat banyak segalanya tentang kepribadiannya masih tetap naïf atau kurang pengalaman. Dia memiliki sesuatu yang naif tentang; pemikiran-pemikiran, pertanyaan-pertanyaan, keyakinan-keyakinan, pendapat-pendapat, mimpi-mimpi, ketakutan-ketakutan, dll. Sejujurnya, anda tidak mungkin menghabiskan waktu sehari dengan anak usia sepuluh tahun tanpa menggulirkan mata anda paling tidak sekali karena sesuatu yang naïf dia katakan dan lakukan.

Sekarang bayangkan seorang lelaki dewasa biasa, pekerja berkerah biru, memiliki 2 anak, melakukan praktek agama tetapi bukan ahli agama, dan mengatur uangnya cukup bertanggung jawab, sehingga dia tidak kelaparan. Lelaki ini tidak menderita keterbelakangan mental terlalu banyak dan sanggup berfungsi dalam sosialnya. Bagaimanapun, dia tidak pernah secara sistimatis lelah untuk meraih aktualisasi diri, dan dia tidak keluar dari caranya untuk belajar sesuatu yang baru setiap hari.

Dia benar-benar hanyalah setara dengan apa yang manusia raih agar berhasil. Filosofinya pada kehidupan adalah menjaga kepala anda ke bawah, membayar pajak-pajak anda, merayakan hari-hari libur, menyaksikan telivisi, dan semoga suatu hari pensiun relatif nyaman.

Lelaki ini sebenarnya tidak mengerti betul tentang dunia di sekelilingnya. Dia akan percaya terhadap apa yang telah diajari di sekolah, dan setelah dia diwisuda dia akan hanya belajar pengetahuan apa yang dia pernah dapatkan, yang mana akan terbatas pada utamanya apa yang ada di TV kabel. Pemikirannya akan dibatasi terhadap pemikiran pada umumanya. Harapan dan ketakutannya akan sama seperti tetangganya. Dia mungkin tidak membeli majalah gosip selebriti, dengan demikian hampir pasti hal itu tidak biasa bagi dia mengambil bagian pada pembicaraan tentang gosip selibriti.

Bahwa kehidupan rata-rata lelaki itu kedengarannya tidak terlalu mengerikan, tetapi bandingkan itu terhadap seperti apa kehidupannya nanti.

Bayangkan seseorang yang mendapatkan titel seorang yang berpikiran paling agung dalam sejarah. Orang-orang itu mengerti tentang kehidupan lebih dalam, membuat observasi perspektif mereka tanpa menunggu orang lain dalam membuat masuk akal dunia untuk mereka. Mereka diberdayakan. Mereka bukanlah budak terhadap pemikiran/pengajaran kebanyakan. Mereka memiliki pemikiran logis, kekhawatiran yang rasional, harapan-harapan brilian, kepercayaan/opsi terartikulasi dan kepribadian yang dapat menyesatkan diri anda. Pikiran mereka adalah benar-benar galaksi. Mereka mengalami sesuatu yang lebih mendalam tentang kehidupan dan manfaatnya daripada rata-rata orang-orang, bahkan memiliki suatu kapasitas untuk membayangkan.

Apapun faktor-faktor yang dapat dipakai untuk menerangkan perbedaan antara bayi, anak umur sepuluh tahun, orang dewasa, dan orang jenius ada satu denominator biasanya itu adalah selalu menampakkan: Pengetahuan.

Bayangkan jika pikiran setiap orang dapat ditampakkan secara kasat mata oleh rumah di mana mereka hidup. seorang bayi akan terbaring di atas sebuah selembar semen persegi. Seorang anak akan hidup dalam satu gubuk kecil. Orang-orang rata-rata seperti anda akan hidup dalam sebuah rumah potong kue pinggiran yang menjemukan. Seorang jenius akan hidup dalam satu mansion mewah rumit yang dibuat sesuai selera.

Itu suatu analogi yang cukup mudah untuk dimengerti, tetapi itu membuat mudah untuk kehilangan kedalaman suatu pesan terhadapnya: Bahwa ada penghargaan internal yang nyata untuk memdapatkan penngetahuan, dan ada kosekwensi internal yang nyata sebagai orang yang bodoh. Inilah yang anda akan alami untuk sisa kehidupan anda. Inilah bagaimana anda akan mengalami untuk sisa kehidupan anda. Dengan tidak belajar anda mengutuk diri anda sendiri terhadap suatu ....dan kebingungan pada mental yang terpenjaral. Anda kehilangan pada pengalaman kepemenuhan terhadap kehidupan dengan tidak mengalami terhadap pemuhan diri anda sendiri.

PERILAKU EKSTERNAL

Setiap interaksi yang anda miliki dengan dunia eksternal: Mengemudi, membesarkan anak, bekerja pada perkerjaan anda, memperbanyak teman, mengatur keuangan anda, memasak, memilih, membela diri, mengajar, mengatur perabot bersama, mengatur pekerja, mencari pasangan hidup, hidup dengan pasangan, dll. Semua yang anda lakukan adalah hasil dari pemikiran anda yang diproses dalam otak anda, dan pemikiran itu dibuat dari cuplikan-cuplikan pengetahuan yang terangkai. Lebih banyak pengetahuan yang anda proses semakin terartikulasi dan komplit tentang pemikiran anda. Lebih komplit pemikiran anda adalah lebih baik anda dapat melakukan apa saja. Kualitas semua yang anda lakukan, dari yang paling tidak penting sampai pada perilaku yang paling mengubah kehidupan, adalah ditentukan berapa banyak pengetahuan yang anda miliki.

Di sini merupakan contoh dunia nyata dari konsep ini dalam berperilaku. Lebih banyak anda mengetahui tentang mobil-mobil lebih baik anda memperbaiki mereka. Itu cukup jelas, tetapi ada sedikit hal yang diberlakukan (tersirat) dalam pernyataan sederhana itu yang banyak orang tampaknya tidak memahaminya.

Implikasi yang paling mendasar dari pernyataan itu adalah bahwa anda dapat belajar tentang mobil. Itu memungkinkan hanya sebagaimana itu mungkin untuk belajar tentang apa saja. Adakah suatu hal yang ingin anda lakukan tetapi tidak dapat anda lakukan? Apabila demikian, itu bukan karena ada sesuatu yang salah secara inheren dengan anda yang akan selalu mencegah anda dari melakukan hal itu. Anda hanya membutuhkan untuk mempelajarinya.

Pikirkan tentang ini. Setiap orang mengharapkan memiliki tenaga adidaya. Mengapa kita menginginkan tenaga adidaya? Disebabkan kita ingin agar mampu dalam melakukan yang lebih banyak dalam kehidupan, dan kita merasa dibatasi oleh badan-badan yang lemah. Tetapi ini sebenarnya bukanlah badan kita yang membatasi kita. Bandingkan diri anda terhadap tumbuhan, dan anda akan melihatnya mengapa ini benar. Suatu tumbuhan benar-benar terikat dengan kapabilitas yang sama selamanya. .....tumbuhan bahkan tidak dapat bergerak kecuali untuk tumbuh ke arah cahaya. Dari prespektif tumbuhan tidak hanya kita dapat bergerak secara bebas, tetapi kita memiliki kemampuan untuk memilih macam-macam apasaja dari akar-akar, batang-batang, daun-daun, bunga-bunga, dll, yang kita inginkan. Kita dapat memilih mekanisme pertahanan kita (bela diri, marksmanship), sistem akar (strategi investasi, keterampilan kerja), bunga-bunga (seni, musik, fashion), dll. Dibandingkan dengan suatu tumbuhan, anda telah memiliki tenaga adidaya, tetapi yang lebih penting, anda dapat memilih tenaga adidaya lain apa saja yang anda inginkan. Jadi, jika anda merasa terperangkap dalam kehidupan dan menginginkan anda memiliki tenaga adidaya, maka pergi untuk belajar sesuatu.

Renungkan bagaimana analogi sebuah mobil mengisyaratkan pada orang bodoh. Jika anda tidak dapat memperbaiki mobil anda, anda jangan berdiri berkeliling menghawatirkan mengapa mobil anda tidak bekerja. Anda mengetahui mengapa mobil itu tidak bekerja. Anda tidak dapat memperbaikinya karena anda tidak mengetahui bagaimana cara memperbaikinya, tetapi dengan sebuah mobil rusak anda tidak hanya duduk mengeluhkan tentangnya. Anda menerima kenyataan bahwa dia rusak dan mengambil langkah-langkah untuk belajar bagaimana memperbaikinya atau memanggil seseorang yang dapat memperbaikinya.

Suatu konsep yang sama dapat dipakai dengan sagala sesuatu yang anda lakukan. Renungkan tentang semua masalah yang pernah anda hadapi dalam kehidupan anda. Renungkan segala kegagalan yang pernah anda alami, semua mimpi-mimpi yang tidak terpenuhi, setiap kesalahan yang anda sesali. Renungkan setiap airmata yang telah anda tumpahkan. Ketika anda terkejut dalam kefrustasian atau kemarahan. Pernahkah anda hanya duduk mengelilinginya dengan tangan anda letakkan di atas kepala anda mengkhawatirkan, "Mengapa ini sedang terjadi pada diriku?". Lain kali ketika hal itu terjadi bayangkan anda sendiri sedang duduk di belakang setir mobil anda dengan tangan anda di atas kepala anda sambil merasakan tanpa pertolongan dan hanya limbung mengkhawatirkan "Mengapa mobilku tidak bekerja?". Karena itulah pada pokoknya yang sedang anda kerjakan.

Akankah anda merasa kecewa dan bertahan apabila kawan anda mengatakan bahwa mobil anda rusak atau bekerja tidak bagus sebab anda tidak mengetahuinya bagaimana cara memperbaikinya? Kemungkinanya tidak, tetapi setiap hari orang-orang mengelak untuk bertanggung jawab terhadap hidup mereka sendiri. Mereka membuat alasan untuk hal jelek yang terjadi terhadap mereka dengan mengatakan itu bukanlah kesalahan mereka. Mereka mencoba untuk menemukan sesuatu yang disalahkan pada masalah-masalah mereka untuk mengecualikan tentang ketidaktahuan mereka sendiri.

Pada hampir semua tingkatatan yang paling fumdamental tentang ketidaktahuan (baca kebodohan) merupakan akar dari seluruh permasalahan, dan pengetahuan adalah pemecahannya. Jika ada masalah dalam hidup anda, lalu ada pengetahuan yang dapat anda posses dan yang akan mengijinkan anda untuk memperbaikinya atau ada orang berpengetahuan yang dapat menolong anda apabila anda mencoba untuk mendapatkan mereka (orang yang berpengetahuan). Jika anda tidak memiliki pengetahuan tentang hal yang sedang dihadapi itu dan tidak mencoba untuk menemukan cara untuk memecahkan mereka, maka itu adalah kesalahan anda, ada permasalahan pada kehidupan anda tidak perduli terhadap sumber asli mereka yaitu pengetauan. Kebodohan bahkan merupakan akar dari semua permasalahan eksternal juga. Apabila anda disakiti atau dilukai oleh orang lain dikarenakan mereka bodoh. Bahkan itu apa yang disebut oleh perusahaan asuransi adalah "Tindakan Tuhan" dapat dicegah dengan pemakaian pengetahuan yang sesuai. Rumah dapat dibangun di atas dataran banjir. Rumah karavan dapat dibuat tahan tornado. Kita dapat merakit penghalang tsunami sepanjang garis pantai. Bangunan dapat dibuat tahan gempa, dan lain sebagainya. Jadi jika anda pernah mencari seseorang atau sesuatu untuk disalahkan, anda akan selalu benar dalam memarahi orang bodoh. Dan jika kehidupan anda sangat buruk atau menjijikkan, maka carilah untuk belajar sesuatu. Dan ingat, jika selalu ada kesempatan anda lebih banyak dapat belajar tentang mobil, maka selalu ada yang anda pelajari tentang apa saja agar kehidupan akan dapat selalu lebih mudah.

Hal yang paling akhir tentang sesuatu yang perlu untuk dijelaskan tentang memperbaiki mobil adalah, hanya ada tiga cara yang dapat anda pelajari tentang bagaimana untuk melakukan hal tersebut: 
  1. Sesuatu yang memaksa anda,
  2. Anda tersangkut terhadapnya, dan
  3. Anda mencarinya
Sama saja tentang kebenaran dengan semua pengetahuan. Orang-orang dipaksa untuk belajar di sekolah, tetapi setelah lulus atau diwisuda tak seorangpun yang memaksa mereka untuk belajar lagi. Bagaimanapun itu tidak berarti mereka akan tidak pernah belajar sesuatu yang lainnya. Mereka akan terbentur terhadap beberapa informasi di sini dan di sana melalui sisa hidup mereka, akan tetapi itu tidak akan ditambah terhadap sesuatu yang benar-benar memberdayakan. Dan apa lawan dari pemberdayaan? Perbudakan.

Kebanyakan orang hanya mencari pengetahuan yang mereka perlukan pada saat sekarang (seperti bagaimana memprogram peralatan elektronik baru mereka). Orang-orang umumnya tidak mengatakan kepada mereka sendiri, "Ada pengetahuan di luar sana yang akan dapat membuat hidupku lebih baik, tetapi aku tidak tahu apa itu. Jadi aku akan belajar sebanyak mungkin tentang apa saja sampai aku menemukan tentang pengetahuan yang akan membuat hidupku lebih baik". Orang-orang tidak melakukan hal itu. Mereka hanya duduk-duduk berkeliling dan menonton TV dan mengasumsikan mereka akan belajar apa saja yang mereka butuhkan untuk mengetahui dalam hidup dari lelucon komidi, kartoon, dan iklan-iklan komersial. Tetapi belajar dengan cara itu tidak akan berhasil, dan tak seorangpun akan memasukkan suatu pengetahuan yang anda butuhkan melalui tenggorokan anda sepanjang hidup anda kecuali dengan belajar sendiri. Dan mengapa mereka harus melakukan itu? Itu adalah pekerjaan anda.

Kenyataannya adalah anda tidak akan terbentur pada pengetahuan yang cukup untuk memberdayakan anda di atas status quo jika anda tidak mencarinya oleh anda sendiri. Sehingga hal ini merupakan peringatan bagi anda atau panggilan untuk bangun agar menyadarinya. Carilah pengetahuan. Carilah sebanyak yang anda dapat, tetapi tanya diri anda sendiri pengetahuan apa yang paling penting anda dapat pelajari dan carilah itu semua yang paling sedikit bagi anda untuk membuang hidup anda dalam mendapatkan pengetahuan yang relatif tidak berguna. Dan jangan pernah berhenti mencari pengetahuan. Segalanya dalam hidup anda (luar dan dalam) tergantung pada pengetahuan yang anda peroleh.

Comments

Popular posts from this blog

ARTI HIDUP - Bagian 3: Arti Hidup

ARTI HIDUP - Bagian 9: Bagaimana Jika Tuhan dan Akhirat Itu Ada?

ARTI HIDUP - Bagian 4: Mengapa Kita Di Sini Jika Tuhan Tidak Ada?