ARTI HIDUP - Bagian 9: Bagaimana Jika Tuhan dan Akhirat Itu Ada?

BAGIAN 9:
BAGAIMANA JIKA TUHAN DAN AKHIRAT ITU ADA?
"Aku lebih baik hidup dengan kehidupanku seolah-olah jika Tuhan itu ada dan ketika mati mendapatkan Dia tidak ada, daripada hidup dengan  kehidupanku seolah-olah jika Tuhan itu tidak ada dan mati mendapatkan Dia ada". Alberts Camus
"Percaya adalah suatu taruhan bijaksana, dipastikan bahwa iman tidak dapat dibuktikan, apa salahnya yang akan anda dapati jika anda untung-untungan pada kebenaran itu dan itu terbukti salah? Jika anda beruntung, anda beruntung sepenuhnya; jika anda kalah, anda tidak rugi apapun. Untung-untungan, lalu, tanpa ragu-ragu (yakin), bahwa Dia ada". Blaise Pascal
Tentang ini sudah dinyatakan pada skenario permulaan mengapa hal ini meruapakan sesuatu yang logis menyatakan bahwa Tuhan bisa eksis dan mengapa akhirat itu bisa eksis. Evolusi adalah suatu bukti bahwa Tuhan itu ada, dan kehidupan  akan dibuang pada kematian. Kita juga telah melihat bagaimana kita bisa menggunakan eksistensi akhirat untuk menyimpulkan bahwa arwah itu eksis dan bahwa kehidupan ini merupakan suatu proses kelahiran untuk kehidupan berikutnya. Selanjutnya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di akhirat atau apakah tingkah laku kita dalam kehidupan ini akan mengakibatkan atau mempengaruhi kita pada kehidupan akhirat selanjutnya. Ini merupakan sesuatu ketidakpastian menjadikannya logis untuk khilaf pada sisi penyebab dan mencoba memenuhi keinginan Tuhan sedapat mungkin, yang mana dilakukan oleh pengembangan terhadap potensi penuh anda dan membantu yang lain melakukan hal yang sama.
Hanya ada sedikit hal yang merubah tentang akhirat ketika kita memperkenalkan Tuhan sebagai suatu faktor. Yang paling penting, ini memberikan kita bukti sirkumtansial lebih dalam mendukung keeksistensian  akhirat. Jika Tuhan abadi, maka suatu preseden telah dibentuk bahwa bawaan makhluk dapat abadi juga. Jika Tuhan tidak memiliki badan fisik, maka suatu preseden telah dibentuk bahwa manusia tidak membutuhkan badan fisik juga. Dan keberadaan Tuhan bukan hanya memberi kita dengan satu sumber kekuatan yang cukup kuat untuk menghubungkan kita dengan akhirat, tetapi juga suatu Tuhan-orang tua yang penuh kasih sayang yang akan memproses suatu motif mengantarkan kita ke dalam akhirat.
ADAKAH PEMBELA UMUM DI AKHIRAT?
Hanya ertanyaan yang tersisa untuk ditanyakan adalah, bagaimana jikalau kita tidak menjadi dewasa? Akankah Tuhan menghukum kita? Pertama-tama, kepercayaan dengan penilaian yang belum tentu menghilangkan nilai keidupan yang sedang berlangsung. Tuhan memberi kita kehidupan bagi orang tua manusia yang paling ideal, karena kasih sayang mereka akan melahirkan seorang anak: mencintainya, mengawasinya tumbuh, dan membiarkannya mengalami pengalaman pemilihan kepemilikan dirinya sendiri. Jika kita tidak membuat sesuatu yang "paling" terhadap kehidupan ini, maka hal ini akan menjadi wajar dan logis apabila sesuatu yang paling buruk  harus terjadi pada kita, yaiutu kehilangan suatu potensi penuh pada alam akhirat sebagai  kelanjutan karena kita telah kehilangan potensi penuh dari kehidupan ini dan tidak ada yang lebih buruk.
Bagaimanapun, ini jelas bahkan terhadap anak-anak bahwa hal ini  tidak logis memberikan semua orang perbedaan pengalaman dalam kehidupan dan perbedaan jumlah waktu hidup mereka dan mengharapkan hasil sama persis dari setiap orang. Tak seorangpun mengetahui apa yang telah akan terjadi setelah mati, tetapi nampaknya tidak logis percaya bahwa arwah kita secara kekal dan tidak dapat diulang kembali diadili lalu dengan kejam dihuhum segera ketika mati oleh orang tua yang sangat logis dan cinta yang murah hati pergi melalui banyak masalah untuk menciptakan tidak hanya kita tetapi juga alam semesta ini yang tak terhingga besar dan dirancang secara rumit untuk kita hidup di dalamnya.
Di sini cara lain untuk melihatnya. Tanyakan diri sendiri dengan pertanyaan ini: apakah Tuhan menciptakan kita disebabkan Dia sendirian? Apakah Tuhan menciptakan kita, sehingga Dia dapat memerintah untuk merajai selamanya terhadap kita dan mengusapkannya di muka kita rendah nian kita? Apakah Tuhan menciptakan kita, sehingga kita akhirnya dapat kembali kepada Nya dan menghangatkan diri kita di seketar hati Nya api dan menikmati suatu pembalasan kehidupan keluarga dalam mana kita tidak dikeluarkan dari satu status budak? Apakah Tuhan menciptakan kita, sehingga suatu hari kita dapat tumbuh besar menjadi orang dewasa yang speritual dan melihat Nya dalam mata sebagai seorang teman dan kawan (bahkan mungkin sama)? Atau apakah Tuhan menciptakan kita, sehingga itu kita akhirnya dapat menjadi lebih superior terhadap Nya karena kita mempunyai kebebasan keinginan sedangkan Dia tidak? 
Bagaimana hukuman kekal membantu Tuhan menyelesaikan salah satu tujuan itu? Tentu hal itu tidak akan. Tidak ada khayalan yang dapat digunakan bagi hukuman kekal kecuali sebagai kisah seorang manusia angker untuk manusia dewasa yang dipakai untuk menakuti anak-anak (dan orang dewasa lain) ke dalam "berprilaku".
Jika anda berniat sedang disibukan pikiran dengan suatu perhitungan arwah abadi anda, maka anda harus menjadi sibuk memikirkan tentang pemenuhan arti kehidupan ini, yang mana sedang berkembang pada potensi penuh anda. Jika anda ingin pergi lebih jauh, anda dapat mencurahkan kehidupan anda untuk membantu yang lain dalam pemenuhan potensi hidup mereka. Jangan mencurahkan kehidupan anda pada doa atau ritual. Tuhan akan menjaga tentang hal itu. Dia tidak butuh perhatian kita. Orang-orang sekarat dalam selokan memerlukan perhatian kita. Jadi, berkembanglah, berpikirlah, dan bantu saudara-saudari anda, dan ketika anda meninggal anda dapat dengan percaya diri membiarkan kerupuk-kerupuk jatuh di mana mereka mungkin terjatuh. 

Comments

Popular posts from this blog

ARTI HIDUP - Bagian 3: Arti Hidup

ARTI HIDUP - Bagian 4: Mengapa Kita Di Sini Jika Tuhan Tidak Ada?