ARTI HIDUP - Bagian 4: Mengapa Kita Di Sini Jika Tuhan Tidak Ada?

BAGIAN 4:

MENGAPA KITA DI SINI JIKA TUHAN TIDAK ADA?

"Aku percaya pada Tuhan hanya aku juga mengeja bahwa itu Alam" (Frank Lloyd Wright)

"Gambaran tentaang Tuhan itu adalah, laki-laki putih sangat besar dengan janggot mengalir yang duduk di langit dan tinngi, jatuhnya setiap burung pipit adalah sangat menggelikan. Tetapi jika oleh "Tuhan" berarti sekumpulan hukum fisika yang menggerakkan alam semesta, maka demikian secara nyata ada Tuhan. Tuhan ini adalah secara emosional tidak membahagiakan...ini tidak sepenuhnya masuk akal untuk menyembah pada hukum gravitasi" (Carl Sagan)

Tidak ada bukti yang tak terbantahkan bahwa Tuhan itu ada. Untuk itu, ini adalah logis menyimpulkan bahwa Dia tidak ada. Orang-orang telah mencoba mengenyampingkan fakta ketidak nyamanan ini dengan menanyakan pertanyaan yang menipu, "Jika Tuhan tidak menciptakan alam semesta ini, lalu siapa yang telah melakukannya?".

Jika alam semesta ini tidak diciptakan oleh Makluk Pencipta, maka hanya ada dua jalan kemungkinan untuk menerangkan keberadaannya. Pertama, alam semesta ini mempunyai eksistensi yang abadi. Yang kedua, alam semesta ini telah menciptakan dirinya sendiri. Secara ironis, ini akan mengambil sejumlah kepercayaan yang sama untuk mempercayai bahwa apakah Tuhan telah menciptakan Dirinya sendiri, atau memang telah ada selamanya. Sebenarnya, memberikan semua kemungkinan itu adalah sama saja dan tidak ada bukti dari keberadaan Tuhan, pertanyaan menipu ini sebenarnya lebih meminjam terhadap kemungkinan tentang alam semesta ini apakah diciptakan oleh dirinya sendiri atau memang sudah ada selamanya.

ALAM SEMESTA MEREKAYASA ALAM SEMESTA

Jika Tuhan tidak ada, maka badan fisik alam semesta adalah semuanya yang ada. Jadi kita hanya mempunyai badan fisik alam semesta untuk mencari bukti dari arti hidup ini. Untk itui, mari menganalisa alam semesta ini dan melihat petunjuk apa yang ada.

Kita banyak mengetahui ini: hukum alam tidak berubah, dan alam semesta berjalan sesuai dengan perhitungan matematika. Mari analisa dua fakta ini dan melihat apa yang dapat kita simpulkan dari mereka.

Pertimbangkan bahwa hukum alam tidak berubah atau tidak dapat berbuat kesalahan. Jika anda mempelajari hukum alam, anda akan selalu mendapatkan diri anda sendiri mempelajari pola yang dapat diprediksi. Setiap molekul melekat terhadap aturan dasar/fundamental yang sama selamanya, di mana saja.

Itu dapat diargumentasikan bahwa elektron-elektron dan antimateri bertingkah laku secara random, tetapi bahkan jika itu benar, hukum alamlah yang mengendalikan pergerakan mereka yang tidak akan pernah berubah. Mereka tidak akan berganti atau berubah pada tingkah laku yang dapat diprediksi dengan tanpa sebab. Sehingga hukum-hukum yang mengendalikan alam semesta masih tetap konsisten.

Jika seluruh alam semesta bertingkah laku sedemikian tepat sempurnanya kemudian akan berubah menjadi tidak konsisten, dan untuk itu tidak mungkin bagi alam semesta telah hadir secara tiba-tiba tanpa sebab. Lebih lanjut, jika tingkah laku semua materi di dalam alam semesta ini tunduk pada sifat yang melekat, rumus yang tetap, dan bentuk kehidupan adalah terbuat dari materi yang sama, kemudian semua itu akan menjadi sama-sama tidak konsisten, dan itu tidak mungkin dapat memunculkan kehidupan dalam alam semesta ini dengan sesuatu yang tiba-tiba juga. Potensi itu bagi materi untuk membentuk organisme-organisme kehidupan harus setara dengan sifat yang melekat dari atom-atom sebagaimana mestinya bagi mereka untuk membentuk dalam satu bentuk padat, cair, atau gas di bawah kondidsi yang tepat.

Kedua pengamatan ini mendukung bahwa keberadaan kita bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Jika itu benar bahwa kita bukanlah akibat suatu yang tiba-tiba, maka harus ada suatu sebab mengapa kita di sini. Bagaimanapun, setiap sebab mempunyai akibat, dan setiap akibat mempunyai suatu sebab. Jika keberadaan kita adalah suatu akibat lalu kita harus mempunyai suatu sebab, dan harus ada suatu sebab mengapa seluruhnya menyebabkan suatu akibat berantai dari kejadian yang membawa kita di sini telah dikondisikan dalam gerakkan itu yang utama. Tanpa suatu sebab itu tidak dapat dan tidak akan pernah terjadi.

Kita dapat memulai menyimpulkan penyebabnya tentang penciptaan kita dengan menganalisa faktanya bahwa alam semesta ini adalah matematika dalam alam. Itu telah disebutkan bahwa matematika merupakan bahasa ilmu pengetahuan alam sebab segalanya yang telah terjadi dalam alam pada suatu tingkatan atom adalah hasil dari persamaan matematika: reaksi kimia, gaya tarik gravitasi, perubahan suhu, dan lain sebagainya. Jadi, jika setiap kejadian dalam alam semesta ini telah terjadi sebagaimana ia berlaku karena itu merupakan solusi terhadap suatu persamaan-persamaan matematika. Dengan demikian, adalah mudah mengatakan bahwa pada tingkatan yang paling dasar kita eksis karena itu adalah suatu kebenaran matematika bahwa kita harus eksis.

HILANGNYA PEMBUAT JARUM JAM

Tanpa adanya Tuhan dalam memecahkan persamaan matematika itu, kita secara sederhana merupakan hasil dari suatu persamaan, periode. Sekarang, beberapa dari anda mungkin sedang khawatir, "Apabila Tuhan tidak di sana menanyakan suatu pertanyaan, lalu siapa yang telah menanyakan pertanyaan itu?".

Apakah ada orang yang bertanya berapa banyaknya elektron yang harus bergabung atau lepas ketika dia bersentuhan dengan atom lain? Apakah ada orang yang bertanya berapa kecepatan cahaya harus bergerak? Bukankah dua ditambah dua tetap sama dengan empat bahkan tak seorangpun di sana menanyakannya? Jika alam semesta ini dimulai pada awalan waktu tertentu, tidak akankah matematika dan potensial telah tetap ada sebelum semua yang lain ada? Jawaban untuk semua pertanyaan itu nampaknya, "Ya" Gaya-gaya alam tidak memerlukan suara. Matematika tidak memerlukan suara, dan begitu pula kebenaran. Hal-hal ini tidak berwujud, kekal, dan eksis tidak tergantung dari hal-hal yang lain.

Beberapa dari anda mungkin sekarang sedang berpikir, "Bahkan jika tidak ada orang yang menginginkan bertanya suatu pertanyaan, seseorang masih tetap diminta untuk membuat suatu solusi, itu merupakan suatu kenyataan"

Tidak, apabila kebenaran adalah suatu kenyataan.

MOTIVASI MESIN

Pertanyaan logis berikutnya untuk kita tanyakan adalah, apabila keeksisan kita disebabkan suatu kebenaran matematika bahwa kita harus eksis, lalu mengapa suatu kebenaran matematika itu menjadikan kita harus eksis?

Anda dapat menyempitkan jawaban pertanyaan itu dengan menjauhkan kita dari pertanyaannya. Apa yang akan terjadi apabila kita tidak eksis? Apakah yang akan menjadi kosekwensinya jika semua bentuk-bentuk kehidupan ini tiba-tiba menjadi musnah?

Tak akan ada apapun. Dipastikan tidak akan ada apapun yang akan terpengaruhi. Planet-planet akan tetap berputar dengan patuh mengelilingi bintang-bintang mereka. Galaksi-galaksi akan terus melayang melintasi angkasa pada lintasan mereka terhadap kehampaan atau Kegentingan Besar itu, dan semua batu-batu dan gas tidak akan menunjukkan suatu perbedaan.

Hanya satu hal yang akan dipengaruhi oleh kemusnahan kita adalah kita sendiri. Jadi, jika eksistensi hidup tidak mempengaruhi tujuan luar apapun dalam alam semesta ini, lalu nilai hidup yang dimiliki hanyalah terhadap kehidupan itu sendiri. Jadi, kita seharusnya telah diciptakan untuk kita.

Sekarang, jika hukum alam saja bertanggung-jawab untuk penciptaan kehidupan kita, lalu apakah itu berarti alam semesta ini baik hati dan memberi kita hidup karena kebaikannya...perhitungan? Itu satu kemungkinannya, tetapi ada lebih banyak lagi yang logis.

Anda lihat, ide ini adalah alam semesta berada di sini untuk melayani kita, asumsikan bahwa kita di atas alam semesta, padahal kita tidak di atasnya. Kita bagian darinya. Kita dibuat dari atom seperti yang lainya. Jadi, ini lebih logis bahwa alam semesta ini tidak menciptakan kita untuk kita; alam semesta tidak memberikan hidup sebagai hadiah. Sebagai pengganti dia memberi dia sendiri hidup. Kita hanyalah kepanjangan dari alam semesta ini. Kita adalah jelmaan alam semesta  ini. Alasan mengapa kita eksis bukan karena untuk membenarkan bahwa kita harus hidup. Melainkan alasan mengapa kita eksis disebabkan untuk membenarkan bahwa alam semesta ini harus hidup.

Jika tujuan alam semesta ini hanyalah agar hidup, ini telah dapat diselesaikan dengan mewujudkan dia sendiri sebagai tumbuh-tumbuhan. Akan ada jauh lebih sedikit pertumpahan darah dengan cara itu. Namun di sinilah anda. Anda dibuktikan bahwa alam semesta ini memiliki tujuan untuk sesuatu yang lebih daripada sekedar kehidupan. Tujuannya adalah paling tidak menjadi apakah anda: makluk hidup, terjaga, mengetahui, sadar. Alam semesta ini telah menghitung bahwa adalah baiknya menjadi sadar sendiri dan dapat membuat keputusan, mempunyai kemauan bebas, memiliki identitas diri, kepribadian, akal. Menjadi seseorang. Jadi, arti hidup ini bukan hanya "menjadi". Atau hanya menjadi hidup. Hidup untuk menjadi seseorang.

Barangkali suatu hari kita akan berkembang ke dalam hal yang lebih menakjubkan dan menemukan bahwa alam semesta ini mempunyai sesuatu bahkan yang lebih ambisius di dalam pikirannya, tetapi itu tidak meniadakan kehidupan kita sekarang ini, dan hal itu tidak berarti arti hidup ini adalah hanya untuk berkembang biak. Alam semesta ini sedang terbangun sekarang dan sedang mencari pengalaman pemenuhan dari sedang terbangunannya. Arti hidup ini adalah untuk memenuhi tujuan pengalaman yang sedang terjadi.

Comments

Popular posts from this blog

ARTI HIDUP - Bagian 3: Arti Hidup

ARTI HIDUP - Bagian 9: Bagaimana Jika Tuhan dan Akhirat Itu Ada?