ARTI HIDUP - Bagian 3: Arti Hidup
BAGIAN 3:
ARTI HIDUP
"Karya manusia yang paling agung dan menakjubkan adalah mengetahui bagaimana dapat hidup dengan suatu tujuan" (Montaigne).
"Hampir seluruh sejarah umat manusia yang dicari tempat kita di dalam kosmos ini. Siapakah kita? Apakah kita? Kita dapati bahwa kita menghuni suatu planet yang tidak penting dari suatu dentuman drum bintang yang tersesat dalam satu galaksi disisipkan jauh ke dalam beberapa sudut yang terlupakan dari suatu alam semesta dalam mana ada jauh lebih banyak galaksi daripada manusia. Kita membuat dunia kita ini penting oleh tuntutan pertanyaan kita, dan oleh dalamnya jawaban kita" (Carl Sagan).
Jika anda tidak mengetahui tentang arti kehidupan, maka anda tidak dengan sadar telah mengerjakan ke arah pemenuhan kehidupan. Jika anda tidak bekerja hanya ke arah pemenuhan pada tujuan ke arah mana anda diciptakan (eksis), maka anda perlu bertanya pada diri anda sendiri, apa yang sedang anda kerjakan dalam hidup anda saat ini?
Hanya ada satu kemungkinan. Anda sedang membuang waktu anda yang tak dapat diperbaharui mengejar tujuan tanpa arti, dan ketika anda meninggal dunia tidak hanya akan eksistensi anda telah sedang disia-siakan, akan tetapi juga demikian terhadap semua percobaan-percobaan dan kesengsaraan menyakitkan yang telah anda kerjakan sedemikian kerasnya dalam melakukannya. Untuk itu, sampai anda mengetahui tentang arti hidup merupakan sesuatu yang paling penting (hanyalah yang terpenting) yang anda dapat lakukan ialah, mencoba untuk menjawab pertanyaan "Apa arti hidup ini?"
Tentu, mudah mengatakan anda ingin mengetahui tentang arti hidup ini, tetapi jika hal itu demikian mudah dikatakan, maka kita akan telah mengetahuinya....tetapi pada kenyataannya kita tidak mengetahuinya. Mengapa hal demikian dapat terjadi? Apakah faktanya lebih banyak tidak ada satu jawabanpun yang dapat diterima secara luas dalam membuktikan suatu pertanyaan yang sangat sulit untuk kita jawab? Atau bahkan lebih runyam lagi, apakah itu membuktikan bahwa kehidupan ini memang tanpa arti?.
Sejarah menunjukkan bahwa, jika kita tidak melakukan sesuatu, hal itu sangat jarang dikarenakan kita tidak dapat melakukannya. hal itu hanyalah karena kita telah sedang salah melakukan tentangnya, dan semua persoalan yang pernah kita percayai tidak mungkin (atau akan) dipecahkan dengan cara yang sama: melalui pemakaian logika yang sesuai. Persoalan ini tidak ada bedanya. Hanya satu cara untuk memahami arti hidup adalah, dan telah berlangsung selalu demikian, yaitu dengan melalui pemakaian logika.
Jadi, mari menguraikan permasalahnya secara logika. Pikirkanlah suatu pertanyaan, "Apa arti hidup ini?" sebagai suatu persamaan. Sekarang, anda tidak dapat memecahkan suatu persamaan tanpa mengetahui variabel-variabelnya, dan jika anda merubah variabel-variabel pada salah satu persamaan, maka anda telah membuat secara keseluruhan menjadi suatu persamaan baru dengan suatu jawaban yang baru pula. Ini berarti anda tidak dapat hanya bertanya, "Apakah arti hidup ini?" sebab tidak ada variabel-variabel dalam persamaan itu yang dapat membantu untuk dikerjakan. Ini seperti bertanya, "Apakah jawaban terhadap persamaannya?" Anda memerlukan mengidentifikasi suatu variabel-variabel untuk menyelesaikan suatu persamaan, yang mana sebenarnya yang harus dinyatakan, "Apa arti hidup ini jika...".
Tiga titik di akhir kalimat itu mewakili alasan lainnya bahwa kita telah mendapatkan suatu kesulitan untuk menjawab pertanyaannya. Kita tidak dapat menyepakati tentang bagaimana menyelesaikan pernyataan-pertanyaan itu disebabkan kita tidak dapat menyepakati terhadap variabel-variabelnya.
Dalam suatu persamaan tentang arti hidup ada dua variabel, yang paling penting adalah juga yang paling sedikit disepakati terhadapnya. Mereka adalah bagaimana alam semesta ini datang ke dalam eksistensi, dan apa yang akan terjadi setelah kita meninggal dunia. Dengan kata lain, Tuhan dan suatu kehidupan akhirat. Ini adalah merupakan kunci pemecahan masalahnya karena mereka menerangkan penciptaan hidup serta tujuan kita setelah kehidupan ini. Yang mana keduanya menyebabkan dan menyiratkan mengapa kita ada di sini.
Jika kita pernah mengerti arti dari hidup ini kita harus mempunyai satu kesimpulan tentang apakah ada atau tidak Tuhan dan kehidupan akhirat nantinya. Sayangnya, alasannya tak seorangpun dapat menyepakati terhadap pertanyaan apakah ada Tuhan atau kehidupan akhirat disebabkan kita tidak dapat membuktikannya, atau tidak dapat membuktikan kemungkinan dari salah satunya.
Bagaimana kita bisa menjalani dilema ini? Sebagaimana biasanya, jawabannya adalah dengan pemakaian logika. Jika semua variabel pada persamaan ini adalah setara lalu kita harus memberikan setiap variabel pertimbangan yang setara.
Untuk melakukan itu kita harus menguraikan petanyaannya menjadi, "Apakan arti hidup ini jika...?" Ke dalam empat pertanyaan terpisah, masing-masing dengan variabel-variabel yang berbeda-beda, dan untuk itu secara potensi mempunyai jawaban berbeda pula:
1. Apa arti hidup ini jika tidak ada Tuhan dan tidak ada kehidupan akhirat?
2. Apa arti hidup ini jika ada Tuhan tetapi tidak ada kehidupan akhirat?
3. Apa arti hidup ini jika tidak ada Tuhan tetapi ada kehidupan akhirat?
4. Apa arti hidup ini jika ada Tuhan dan ada kehidupan akhirat?
Ketujuh bagian berikut dari buku ini menganalisa keempat skenario ini secara objectip untuk menyimpulkan tentang apa arti hidup ini dapat diletakkan pada masing-masing kondisi. Keterangan dalam buku setelahnya menganalisa bagaimana untuk memenuhi tuntutan dari arti hidup ini. Penyebab dibutuhkannya tujuh bagian untuk menjawab empat pertanyaan di atas disebabkan kedua pertanyaan dan jawabannya saling tumpang-tindih antara masing-masing. Sebagai contoh, jika Tuhan itu ada lalu ada sesuatu yang akan sama saja tidak perduli apakah ada atau tidak adanya tentang kehidupan akhirat. Sehingga, untuk menghindari pengulangan dan membuat segalanya lebih mudah dimengerti informasinya akan ditunjukkan dalam urutan seperti berikut ini.
1. Mengapa kita di sini jika Tuhan tidak ada tidak perduli apakah akhirat itu ada atau tidak?
2. Bagaimana jika Tuhan tidak ada dan juga akhirat tidak ada?
3. Bagaimana jika Tuhan tidak ada dan akhirat ada?
4. Mengapa kita di sini jika Tuhan ada tak terkecuali apakah akhirat itu ada atau tidak?
5. Bagaimana jika Tuhan ada dan dan akhirat tidak ada?
6. Bagaimana jika Tuhan ada dan akhirat ada?, dan
7. Apakah sama tak perduli apakah Tuhan ada atau tidak atau apakah akhirat ada atau tidak?.
"Hampir seluruh sejarah umat manusia yang dicari tempat kita di dalam kosmos ini. Siapakah kita? Apakah kita? Kita dapati bahwa kita menghuni suatu planet yang tidak penting dari suatu dentuman drum bintang yang tersesat dalam satu galaksi disisipkan jauh ke dalam beberapa sudut yang terlupakan dari suatu alam semesta dalam mana ada jauh lebih banyak galaksi daripada manusia. Kita membuat dunia kita ini penting oleh tuntutan pertanyaan kita, dan oleh dalamnya jawaban kita" (Carl Sagan).
Jika anda tidak mengetahui tentang arti kehidupan, maka anda tidak dengan sadar telah mengerjakan ke arah pemenuhan kehidupan. Jika anda tidak bekerja hanya ke arah pemenuhan pada tujuan ke arah mana anda diciptakan (eksis), maka anda perlu bertanya pada diri anda sendiri, apa yang sedang anda kerjakan dalam hidup anda saat ini?
Hanya ada satu kemungkinan. Anda sedang membuang waktu anda yang tak dapat diperbaharui mengejar tujuan tanpa arti, dan ketika anda meninggal dunia tidak hanya akan eksistensi anda telah sedang disia-siakan, akan tetapi juga demikian terhadap semua percobaan-percobaan dan kesengsaraan menyakitkan yang telah anda kerjakan sedemikian kerasnya dalam melakukannya. Untuk itu, sampai anda mengetahui tentang arti hidup merupakan sesuatu yang paling penting (hanyalah yang terpenting) yang anda dapat lakukan ialah, mencoba untuk menjawab pertanyaan "Apa arti hidup ini?"
Tentu, mudah mengatakan anda ingin mengetahui tentang arti hidup ini, tetapi jika hal itu demikian mudah dikatakan, maka kita akan telah mengetahuinya....tetapi pada kenyataannya kita tidak mengetahuinya. Mengapa hal demikian dapat terjadi? Apakah faktanya lebih banyak tidak ada satu jawabanpun yang dapat diterima secara luas dalam membuktikan suatu pertanyaan yang sangat sulit untuk kita jawab? Atau bahkan lebih runyam lagi, apakah itu membuktikan bahwa kehidupan ini memang tanpa arti?.
Sejarah menunjukkan bahwa, jika kita tidak melakukan sesuatu, hal itu sangat jarang dikarenakan kita tidak dapat melakukannya. hal itu hanyalah karena kita telah sedang salah melakukan tentangnya, dan semua persoalan yang pernah kita percayai tidak mungkin (atau akan) dipecahkan dengan cara yang sama: melalui pemakaian logika yang sesuai. Persoalan ini tidak ada bedanya. Hanya satu cara untuk memahami arti hidup adalah, dan telah berlangsung selalu demikian, yaitu dengan melalui pemakaian logika.
Jadi, mari menguraikan permasalahnya secara logika. Pikirkanlah suatu pertanyaan, "Apa arti hidup ini?" sebagai suatu persamaan. Sekarang, anda tidak dapat memecahkan suatu persamaan tanpa mengetahui variabel-variabelnya, dan jika anda merubah variabel-variabel pada salah satu persamaan, maka anda telah membuat secara keseluruhan menjadi suatu persamaan baru dengan suatu jawaban yang baru pula. Ini berarti anda tidak dapat hanya bertanya, "Apakah arti hidup ini?" sebab tidak ada variabel-variabel dalam persamaan itu yang dapat membantu untuk dikerjakan. Ini seperti bertanya, "Apakah jawaban terhadap persamaannya?" Anda memerlukan mengidentifikasi suatu variabel-variabel untuk menyelesaikan suatu persamaan, yang mana sebenarnya yang harus dinyatakan, "Apa arti hidup ini jika...".
Tiga titik di akhir kalimat itu mewakili alasan lainnya bahwa kita telah mendapatkan suatu kesulitan untuk menjawab pertanyaannya. Kita tidak dapat menyepakati tentang bagaimana menyelesaikan pernyataan-pertanyaan itu disebabkan kita tidak dapat menyepakati terhadap variabel-variabelnya.
Dalam suatu persamaan tentang arti hidup ada dua variabel, yang paling penting adalah juga yang paling sedikit disepakati terhadapnya. Mereka adalah bagaimana alam semesta ini datang ke dalam eksistensi, dan apa yang akan terjadi setelah kita meninggal dunia. Dengan kata lain, Tuhan dan suatu kehidupan akhirat. Ini adalah merupakan kunci pemecahan masalahnya karena mereka menerangkan penciptaan hidup serta tujuan kita setelah kehidupan ini. Yang mana keduanya menyebabkan dan menyiratkan mengapa kita ada di sini.
Jika kita pernah mengerti arti dari hidup ini kita harus mempunyai satu kesimpulan tentang apakah ada atau tidak Tuhan dan kehidupan akhirat nantinya. Sayangnya, alasannya tak seorangpun dapat menyepakati terhadap pertanyaan apakah ada Tuhan atau kehidupan akhirat disebabkan kita tidak dapat membuktikannya, atau tidak dapat membuktikan kemungkinan dari salah satunya.
Bagaimana kita bisa menjalani dilema ini? Sebagaimana biasanya, jawabannya adalah dengan pemakaian logika. Jika semua variabel pada persamaan ini adalah setara lalu kita harus memberikan setiap variabel pertimbangan yang setara.
Untuk melakukan itu kita harus menguraikan petanyaannya menjadi, "Apakan arti hidup ini jika...?" Ke dalam empat pertanyaan terpisah, masing-masing dengan variabel-variabel yang berbeda-beda, dan untuk itu secara potensi mempunyai jawaban berbeda pula:
1. Apa arti hidup ini jika tidak ada Tuhan dan tidak ada kehidupan akhirat?
2. Apa arti hidup ini jika ada Tuhan tetapi tidak ada kehidupan akhirat?
3. Apa arti hidup ini jika tidak ada Tuhan tetapi ada kehidupan akhirat?
4. Apa arti hidup ini jika ada Tuhan dan ada kehidupan akhirat?
Ketujuh bagian berikut dari buku ini menganalisa keempat skenario ini secara objectip untuk menyimpulkan tentang apa arti hidup ini dapat diletakkan pada masing-masing kondisi. Keterangan dalam buku setelahnya menganalisa bagaimana untuk memenuhi tuntutan dari arti hidup ini. Penyebab dibutuhkannya tujuh bagian untuk menjawab empat pertanyaan di atas disebabkan kedua pertanyaan dan jawabannya saling tumpang-tindih antara masing-masing. Sebagai contoh, jika Tuhan itu ada lalu ada sesuatu yang akan sama saja tidak perduli apakah ada atau tidak adanya tentang kehidupan akhirat. Sehingga, untuk menghindari pengulangan dan membuat segalanya lebih mudah dimengerti informasinya akan ditunjukkan dalam urutan seperti berikut ini.
1. Mengapa kita di sini jika Tuhan tidak ada tidak perduli apakah akhirat itu ada atau tidak?
2. Bagaimana jika Tuhan tidak ada dan juga akhirat tidak ada?
3. Bagaimana jika Tuhan tidak ada dan akhirat ada?
4. Mengapa kita di sini jika Tuhan ada tak terkecuali apakah akhirat itu ada atau tidak?
5. Bagaimana jika Tuhan ada dan dan akhirat tidak ada?
6. Bagaimana jika Tuhan ada dan akhirat ada?, dan
7. Apakah sama tak perduli apakah Tuhan ada atau tidak atau apakah akhirat ada atau tidak?.
Comments
Post a Comment