ARTI HIDUP - Bagian 8: Bagaimana jika Tuhan Ada dan Kehidupan Akhirat Tidak Ada?

BAGIAN 8:

BAGAIMANA JIKA TUHAN ADA DAN KEHIDUPAN AKHIRAT TIDAK ADA

"Tujuan dari semua kehidupan ini adalah kematian" . Sigmund Freud.

"Ketakutan terhadap kematian disebabkan oleh ketakutan terhadap kehidupan. Lelaki yang hidup sepenuhnya disiapkan untuk mati setiap saat". Mark Twain.

Hal ini biasanya mejadi suatu kepercayaan umum bahwa eksistesi Tuhan besamaan dengan eksistensi kehidupan akhirat, akan tetapi tidak ada alasan bagi anda untuk memiliki yang satu tanpa memiliki yang lainnya. Pada kenyataannya, bukti mendukung itu. Ada bukti empiris bahwa Tuhan itu ada (evolusi), tetapi tidak ada bukti yang dapat dipercaya untuk mendukung adanya suatu kehidupan akhirat.

Lihat pada kenyataan yang ada. Tuhan tidak memiliki badan secara fisik. Kita mempunyai. Kita sepenuhnya terpisah. Ini umum mempercayai bahwa ketika kita meninggal celah itu akan dijembatani, tetapi tidak ada bukti tentang itu. Dan lagi, fakta yang hanya dapat diamati adalah bahwa kita hidup di sini dan Dia di sana. Itulah keadaannya, dan itulah kemungkinannya sebagaimana akan begitu selamanya.

DI SUATU PULAU PADANG PASIR DAN KEHIDUPAN MASIH TETAP BERLANGSUNG

Apabila tidak ada akhirat lalu akhirnya para yang percaya dan yang tidak percaya semuanya terhenti dalam bahtera yang sama. Ketika kita meninggal kesadaran kita berakhir untuk eksis. Dengan demikian, kita berakhir untuk eksis. Jadi, kita butuh memperjelas sedini mungkin apa yang harus dilakukan dengan waktu yang singkat kita punyai di sini ini.

Tak terkecuali apakah kita diciptakan oleh suatu alam semesta tanpa sadar atau oleh Tuhan yang hidup penyebab dibalik penciptaan adalah masih sama. Kita di sini untuk menjalani sebagai kita semaksimal mungkin, dan untuk memenuhi itu kita butuh berkembang baik pikiran maupun badan sebanyak mungkin.

Lebih lanjut, jika Tuhan adalah maha logis, maka logis adalah cara Tuhan dalam melakukan apasaja. Sehingga jika kita ingin menjadi orang yang religius kita harus meniru Tuhan dan menjadi logisian (orang orang logis), untuk berpikir tidak logis akan berlaku bertentangan dengan alam Tuhan.

PUCUK KENDI YANG HILANG

Hanya ada satu aspek lagi dari apa yang harus kita lakukan dengan hidup kita yang membutuhkan untuk diklarifikasi. Karena kita tidak akan pernah bertemu Tuhan atau akan diadili oleh Nya akankah hal ini tidak bermoral berlaku seperti Dia tidak eksis samasekali, atau haruskah kita mengakui Nya bagaimanapun? Haruskah kita merasa wajib berterimakasih kepada Nya? Dan jika demikian lalu bagaimana?

Telah diberikan, pada akhirnya tidak ada masalah apabila anda berterimakasih kepada Tuhan atau tidak. Hasil akhirnya adalah sama, tetapi, jika anda memilih berterima kasih kepada Tuhan anda harus bertanya pada diri anda sendiri, apa yang paling diinginkan oleh orang tua yang kuat, logis, dan penuh kasih? Bagaimana kita akan memberikan terimakasih terhadap sesuatu yang kita tidak dapat berinteraksi?

Hal yang hanya dapat kita simpulkan bahwa Tuhan menginginkan kita semua berkembang/tumbuh dan memenuhi potensi kita. Jadi, jika anda ingin berterima kasih kepada Tuhan, maka anda perlu untuk memulai dalam hidup anda, suatu pencaharian secara sistimatis dalam melakukan apa di mana anda telah diletakkan di sini: agar berkembang. Jika anda ingin melangkah lebih lanjut, maka bantulah sebagai wakil Nya untuk memenuhi arti dari kehidupan juga. Dan semuanya itu, janganlah ada yang menghalangi siapa saja di dalam memenuhi potensi mereka melalui penggagguan secara fisik atau emosional, bertindak, atau pemakaian kekuatan sosial ekonomi anda untuk digunakan dan/atau menindas mereka karena  kalah kuat daripada anda.

Hal ini nampaknya tidak logis dalam mencurahkan hidup kita untuk mengucapkan dan memuji Tuhan walaupun jika niatan kita adalah tulus. Bayangkan, jika anda mengorbankan setiap kesempatan lain dalam hidup anda untuk berkata atau memuji orang tua anda karena melahirkan anda. Mereka akan menendang anda keluar dari rumah mereka dan mengatakan kepada anda, anda adalah membuang kehidupan mereka yang telah mereka kerjakan dengan susah payah untuk memberikan anda berkembang. Berapa banyak kekecewaan dan sedih bagi Tuhan seharusnya ketika melihat anak Nya membalikkan badan mereka membelakangi pada tujuan dari penciptaan mereka.

Misalkan anda telah meninggalkan rumah orang tua anda dan melakukan hidup anda sendiri dalam dunia seperti bagaimana anda seharusnya. Sekarang anda sedang melakukannya begitu baik bagi diri anda sendiri bahwa anda telah mendapatkan uang lebih dan anda ingin memberikan kembali kepada Tuhan sebagai balas budi untuk mengatakan terima kasih. Anda sebenarnya tidak bisa memberi uang kepada Tuhan secara langsung, tetapi ada banyak orang di luar sana yang mengaku "lebih" sebagai wakil Tuhan anda yang akan senang untuk menerima uang anda.

Dari semua itu pertama-tama, tidak ada bukti empiris yang mendukung bahwa seseorang dapat dinyatakan lebih berhak sebagai wakil Tuhan daripada orang yang lainnya. Bahkan jikapun ada bukti, memberikan uang kepada mereka tidak akan berarti anda sebenarnya telah memberikan uang "lebih" anda kepada Tuhan daripada apabila seharusnya anda telah memberikan uang lebih anda kepada orang yang sedang  memerlukannya semisal orang lapar/sekarat. Pada kenyataannya, jika pengangkatan diri sendiri sebagai wakil Tuhan membelanjakan satu sen uang itu pada apa saja selain membantu pada seorang yang sedang kelaparan/sekarat, maka itu menjadi sulit dalam memberikan argumentasi bahwa uang itu benar-benar telah diberikan kepada Tuhan, sebab hal ini berarti bahwa orang kelaparan/sekarat itu pada kenyataannya akan lapar/mati, yang mana sudah kita simpulkan secara nyata bukanlah perbuatan demikian (memberikan uang lebih kepada yang memerlukannya) merupakan yang Tuhan inginkan. Ini aman untuk menyimpulkan bahwa setiap orang yang memakai uang Tuhan pada tempat-tempat peribadatan adalah bukan sebagai wakil Tuhan samasekali.

Comments

Popular posts from this blog

ARTI HIDUP - Bagian 3: Arti Hidup

ARTI HIDUP - Bagian 9: Bagaimana Jika Tuhan dan Akhirat Itu Ada?

ARTI HIDUP - Bagian 4: Mengapa Kita Di Sini Jika Tuhan Tidak Ada?