ARTI HIDUP - Bagian 7: Mengapa Kita Di sini Jika Tuhan Itu Ada?

BAGIAN 7:

MENGAPA KITA DI SINI JIKA TUHAN INI ADA?

"Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jam kerja alam semesta ini bisa ada tanpa seorang pembuat jam". (Voltaire)

"Jika anda tidak mengetahui apa arti demi Tuhan, amati suatu cabang bunga forsythia atau suatu tunas daun slada". (Martin H. Fisher)

Adalah sesuatu hal yang logis menyatakan bahwa Tuhan itu ada, dan hampir seluruh bukti yang paling menarik dari keeksistensian-Nya adalah terjadinya evolusi. Ini seharusnya tidak dibingungkan dengan seleksi alam. Seleksi alam melakukan suatu kerja yang baik dalam menerangkan bagaimana kemungkinannya mutasi suatu genetika akan memberikan suatu keturunan pada satu organisme suatu keuntungan atau kerugian terhadap suatu keturunan dari suatu organisme di sekelilingnya, tetapi tidak melakukan kerja yang baik dalam menjelaskan suatu proses dengan mana satu benda hidup berkembang dari benda mati menjadi suatu organisme bersel tunggal menjadi satu organisme bersel banyak menjadi tingkat akhir lengkap dengan ketahanan terhadap lingkungan alam, kemampuan berkembang biak, otak, sistem anggota tubuh yang saling bekerja sama, penerima rasa yang rumit dan khususnya satu titik urutan taksonomi dalam satu kerajaan kehidupan yang saling hubungan secara sistimetik.

PERJALANAN LAIN PADA ANJING PEMBURU

Penyebab seleksi alam tidak memberikan kerja yang baik dalam menerangkan proses itu adalah disebabkan ketika anda berbicara tentang kehidupan anda jarang menemukan anda sendiri membicarakan tentang kecelakaan (bukan kejadian karena sebab-akibat). Ingat, kehidupan itu sendiri tidak muncul dalam alam semesta karena kecelakaan atau secara tiba-tiba. Kenyataanya bahwa seluruh kehidupan dapat diatur dalam satu titik urutan teksonomi logis berurutan, bukan kecelakaan. Ini bukan sepertinya bahwa bunga matahari, ikan bintang, dan kerang-kerang laut memiliki pola bentuk geometris akibat kecelakaan. Ini juga bukan sepertinya bahwa anjing memiliki mata, burung mempunyai lidah, tumbuh-tumbuhan memproses energi, dan bakteria berkembang biak, di mana semua itu dilakukan/dimiliki oleh manusia juga. Jika setiap makhluk hidup merupakan suatu kesempatan mutasi lalu mengapa kita semua masih tetap mirip?

Lihat pada badan manusia. Apakah itu menurut anda merupakan kecelakaan bahwa sisi kiri dan kanan simitris? Beribu orang intelek jenius telah merancang komputer untuk beberapa dekade tetapi gagal menciptakan sesuatu di manapun mendekati kecanggihan otak manusia. Kita tidak dapat menghasilkan tenaga generator atau pemroses sampah sekompak dan seefisien sebagaimana yang terjadi pada badan manusia. Kita tidak mempunyai kamera video secanggih mata kita atau sound system secanggih telinga kita. Jika badan kita dirancang lebih intelejen daripada suatu mesin yang pernah kita buat, maka apakah benar-benar logis mengatakan badan kita telah dirancang secara acak trial and error?. Atau apakah ini akan menjadi lebih masuk akal bahwa progres evolusi kita lebih bergaya teratur daripada itu?

Jika evolusi tidak berjalan secara teratur kita tidak akan dapat membuat suatu prediksi yang tepat tentang keturunan. DNA adalah secara nyata matematika. Cara para ahli pada SETI (Search for Extra Terrestrial Intelligence) mengharapkan mengidentifikasi kehidupan intellijensia luar angkasa adalah dengan mencari satu transmisi (bisa itu radio, cahaya, dlsb.) Hal  itu berisi semacam pola matematika yang tidak dapat terjadi secara acak dalam alam semesta ini. Baiklah, DNA kita adalah berpola matematika yang tidak dapat terjadi secara acak dalam alam semesta ini.

Type evolusi yang dapat menjembatani celah antara satu organisme bersel satu dan kehidupan intellijensia membutuhkan DNA untuk berubah kejadian secara intellijensia dan dengan sengaja bahwa hampir sama seperti DNA kita dapat belajar, berpikir dan berencana.

Ada dua cara untuk menjelaskan fenomena ini. Pertama, organisme bersel tunggal asli kita kembangkan dari cetak biru yang sudah berisi lengkap dari apa yang akan berkembang ke dalam ribuan tahun kemudian dan hal itu telah memenuhi satu rencana yang telah ditentukan sebelumnya melalui arah dari evolusinya. Kemungkinan yang lain adalah bahwa DNA tidak memiliki tujuan awal yang telah ditentukan tetapi hitungan perubahannya sebagaimana hal itu berjalan bersamanya. Ini akan berarti DNA kita bertingkah-laku seperti sebuah program komputer biologi (sesuatu yang hidup)....secara khusus, suatu virus mereplikasi-sendiri yang dapat menulis kembali dirinya sendiri untuk beradaptasi terhadap lingkungannya.

Yang mana saja dari skenario itu memang benar adalah tidak terkait terhadap topik ini. Apa yang penting adalah, bahwa di dalam suatu ilmu pengetahuan alam semesta anda tidak bisa mendapatkan sesuatu dari yang tidak ada samasekali. Jadi, jika ada intellijensia diri dalam suatu evolusi dari DNA kita, maka ini telah harus datang dari suatu sumber yang telah menanggalinya: suatu Pencipta yang intellijensia (yang mungkin menciptakan Dirinya Sendiri atau eksis secara abadi).

UBUR-UBUR ANTARIKSAWAN

Apakah idenya masih belum terjual? Pertimbangkan analogi berikut ini: Sekelompok antariksawan Bumi mendarat di suatu planet yang jauh. Mereka menjelajahi permukaannya mencari organisme hidup akan tetapi mereka tidak dapat menemukan apa-apa. Bagaimanapun, mereka tetap mecari melintasi rumah-rumah yang ada. Sehingga mereka mengetahui pernah ada kehidupan intellegensia di atas planet itu pada suatu waktu yang lampau disebabkan presisi struktur bangunan-bangunan yang telah dibangun, seperti rumah-rumah, tidak hanya terjadi secara acak dalam alam. Jika anda dapat menenerima terhadap logika itu, maka anda harus juga dapat setuju dengan bagian berikut ini.

Bayangkan bahwa sejuta tahun dari sekarang sekelompok makhluk luar angkasa seperti ubur-ubur datang ke bumi mencari kehidupan. Bagaimanapun, jauh sebelum makhluk itu sampai di dalam galaksi kita manusia telah menghancurkan atmosfer kita, seluruh hal yang hidup di bumi telah mati, dan suatu lingkungan ganas telah merusak semua bangunan yang telah manusia dirikan.

Jadi makhluk luar angkasa tidak menemukan makhluk hidup atau bangunan untuk menyimpulkan eksistensi bentuk kehidupan intelligensia di bumi. Bagaimanapun, mereka menemukan beberapa tulang-belulang membeku di  dalam gumpalan es. Karena makhluk luar angkasa seperti makhluk ubur-ubur. Mereka tidak mengenal tulang belulang sebagai sisa-sisa organisme kehidupan. Namun demikian, mereka masih memakai tulang-belulang untuk menyimpulkan bahwa pernah ada kehidupan intellijensia pada planet Bumi sebab tulang-belulang itu merupakan bukti dari kehidupan untuk alasan yang sama pada rumah-rumah itu: tulang-belulang telah dirancang terlalu akurat dan secara konsisten agar terjadi secara random dalam alam. Tentu, tulang-belulang telah terjadi dalam alam...tetapi bukan secara random. Ini tampaknya bahwa mereka harus telah diciptakan oleh sesuatu yang berintellijensia.

HANYA SATU CARA BAGAIMANA BELAJAR TERBANG

Sayangnya, kita tidak bisa bercakap-cakap dengan Tuhan untuk mengetahui mengapa Dia melalui semua permasalahan itu menciptakan kita. Untuk membuat permasalahannya semakin parah, hal ini secara umumn dapat diterima bahwa manusia tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan dan menjadi  suatu kebodohan apabila membuat asumsi-asumsi tentang itu. Bagaimanapun, jika kita tidak membuat suatu asumsi-asumsi tentang alam Tuhan, maka ini secara praktis menjadi tidak berguna mempercayai tentang Tuhan karena akan tidak ada apapun untuk dipercayai.

Jadi mari menjelajahi suatu asumsi dasar sedikit tentang alam Pencipta kita. Kita dapat mengasumsikan bahwa Dia berkekuatan tak terhingga (atau cukup dekatlah), logis, dan perduli. Kita juga tahu bahwa kita tidak diciptakan dalam kehadiran-Nya (paling tidak termaksud bahwa kita tidak dapat berinteraksi dengan-Nya sebagaimana dengan cara yang sama kita berinteraksi dengan orang lain).

Kita dapat mengasumsikan Dia mempunyai kekuasaan yang tak terhingga (atau cukup dekatlah) karena Dia menciptakan segalanya. Dia logis sebab alam semesta ini Dia ciptakan secara brilian matematika. Akhirnya, Dia menjaga kita, sebab ini menjadi tidak logis bagi-Nya menciptakan atau merawat semua ini dan membenci atau bahkan tidak tertarik pada yang diciptakan-Nya.

Dengan variabel-variabel ini kita menyimpulkan bahwa Tuhan kemungkinan bukanlah orang tua yang saling tergantung atau tukang perintah yang keras yang akan menghukum kita untuk tidak mencintai-Nya karena ini akan menjadikan Dia tidak sangat mencintai, logis atau effisien. Jika Tuhan menginginkan budak Dia telah dapat menciptakan mereka daripada menciptakan kita di suatu pengungsian alam semesta dan memberikan kita kemampuan berpikir dan kemudian berbalik dan mengatakan pada kita untuk tidak berpikir melainkan melayani-Nya atau mati. Mengatakan pada seseorang "Lakukan apa yang saya katakan atau mati". Tidak memberi yang diciptakan-Nya kebebasan memilih. Itu memberi yang diciptakan-Nya suatu ultimatum untuk memilih antara menjadi budak atau dibunuh.

Apabila Tuhan mempunyai kekuasaan tak terbatas lalu mengapa Dia akan menciptakan kita? Kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk-Nya yang Dia tidak dapat melakukan untuk Dirinya Sendiri. Ini memberi kesan bahwa Tuhan tidak menciptakan kita untuk keuntungan-Nya. Tetapi siapa yang lain yang mendapatkan keuntungan dari kita yang sedang hidup ini. Kita! Tuhan menciptakan kita untuk kita, yang mana akan sesuai dengan motivasi dari semua orang tua yang kita cintai.

Bukankah hal itu merupakan suatu alasan yang idial untuk mempunyai anak? Anda membawa kehidupan lebih banyak ke dalam eksistensi dan anda melakukannya sebagai suatu hadiah dan tidak mengharapkan apapun sebagai balasan, dan anda masih mencintai dan menjaga untuk anak anda bahkan mereka tidak mencintai anda atau perduli pada anda sebagai balasan.

Itu tidak membutuhkan suatu logika yang tak terbatas untuk mendapatkan kesimpulan bahwa motivasi yang paling logis untuk suatu cinta tak terbatas Tuhan dalam menciptakan kita adalah memberikan kita kehidupan sebagai hadiah, suatu cara mengirimkan kita keluar dari sarang menjadi seseorang kita sendiri: untuk menjadi apa, untuk hidup, berkembang, berpikir, memilih, dan untuk mengalami suatu kemuliaan dari keberadaan sebagai orang bebas dengan demikian kehidupan kita mungkin mempunyai nilai dan arti.

Jika anda melihat semua sakit dan penderitaan di dunia anda mungkin akan menyimpulkan bahwa Tuhan tidak perduli tentang kita. Untuk menambah lebih banyak bukti terhadap kesimpulan ini adalah kenyataannya bahwa Tuhan tidak menjawab doa-doa atau melaksanakan mukjizat-mukjizat-Nya untuk kita.

Peninjauan lebih dekat terhadap bukti ini adalah titik-titik mundur terhadap kesimpulan bahwa Tuhan memberi penjagaan terhadap kita. Hidup kita mungkin lebih menyenangkan apabila Tuhan telah memanjakan kita, tetapi lihat apa yang terjadi ketika orang tua memanjakan anak mereka. Anak tumbuh besar selalu tergantung dan lemah. Mereka tidak dapat berdiri pada mereka sendiri dan menjadi diri mereka sendiri. Sehingga orang tua yang mencintai harus membiarkan anak mereka terjatuh agar belajar bagaimana caranya berjalan. Dalam jangka panjang inilah hal yang paling disukai orang tua untuk dapat lakukan, yang mana nampaknya mengapa kita telah dilahirkan di dalam alam semesta yang teguh ini di mana kita berdiri atau jatuh tanpa pengaruh Tuhan akan hasilnya.

Comments

Popular posts from this blog

ARTI HIDUP - Bagian 3: Arti Hidup

ARTI HIDUP - Bagian 9: Bagaimana Jika Tuhan dan Akhirat Itu Ada?

ARTI HIDUP - Bagian 4: Mengapa Kita Di Sini Jika Tuhan Tidak Ada?