ARTI HIDUP - Bagian 6: Bagaimana Jika Tuhan Tidak Ada dan Kehidupan Akhirat Ada?
BAGIAN 6:
BAGAIMANA JIKA TUHAN TIDAK ADAN DAN KEHIDUPAN AKHIRAT ADA?
"Tidak ada orang biasa...itulah yang abadi yang kita ajak guraui, bekerja dengan, kawini, hina, dan eksploitasi" (C.S. Lewis)
"Dalam kematian, aku dilahirhan" (Pepatah Orang Asli Amerika)
Jika kita dapat mempercayai tenaga alam semesta yang cukup kuat yang tidak disadari untuk memberikan kehidupan dan mengambilnya kembali, maka beralasan mengasumsikan bahwa suatu tenaga yang cukup kuat alam semesta yang tidak disadari dapat memberi kita suatu kehidupan akhirat, dan itu dapat diperdebatkan bahwa seharusnya ada kehidupan akhirat sebab suatu kehidupan fana adalah suatu pemborosan potensi. Ini memerlukan bertrilyun-trilyun tahun untuk kehidupan dunia muncul di Bumi, dan seseorang hanya dapat hidup kira-kira seratus tahun? Analisa keuntungan nampaknya tidak bertambah. Dari pandangan ini suatu kehidupan fana adalah suatu pemborosan potensi dan ini membuat lebih masuk akal bahwa seharusnya memang ada kehidupan akhirat.
Sementara ada tentunya yang logis di belakang ide ini akan tetapi tidak ada bukti empiris untuk mendukungnya. Bagaimanapun, mungkin ada bukti yang besifat tidak langsung dalam alam semesta untuk mendukung bahwa kehidupan akhirat itu ada.
Jika alam semesta ini dimulai pada waktu awal tertentu, maka pernah ada suatu waktu ketika tidak ada fisik materi tetapi ada kekuatan siluman cukup nyata dan cukup besar untuk melahirkan fisik alam semeasta menjadi eksis. Bahkan jika alam semesta telah ada secara abadi masih ada hukum-hukum tak berwujud yang mengendalikan tingkah laku alam semesta. Ada tangan tersembunyi sedang bekerja. Tidak ada perkataan apa yang lain adalah nyata yang tidak dapat kita lihat.
Kemungkinan argumentasi yang paling kuat untuk suatu kepercayaan alam akhirat adalah bahwa materi/energgi tidak dapat diciptakan atau dihilangkan tetapi hanya berubah bentuk saja. Jika itu benar, lalu, maka pintu dapat mengayun ke dua arah juga. Jika kita meninggal hidup kita tidak hilang tetapi hanya berubah bentuk.
Sementara ada argumentasi logis tentang eksistensi alam akhirat tetapi tidak ada argumentasi logis seperti apa kehidupan akhirat nantinya. Tidak ada jalan yang menyimpulkan jika kita akan dapat mengingat siapa kita, jika kita memiliki badan, jika kita akan mempunyai sayap, jika kita akan mempunyai kelamin, jika keluarga kita akan bersama kita, jika kita akan menjelma, dan lain sebagainya. Ini mengajak berspekulasi tentang bayangan atau spekulasi yang demikian, akan tetapi kita harus jujur dengan diri kita sendiri. Kita jelasnya tidak dapat mengetahui, dan bahkan apapun kecilnya kita menyimpulkan adalah tetap murni merupakan spekulasi teori.
KURSI KOSONG PENGADILAN
Yang paling buruk dari semua itu, kita tidak mengetahui jika kita akan diadili untuk hal-hal yang pernah kita lakukan di dalam kehidupan dunia fana kita. Permasalahan yang ada dengan hal itu hanyalah...jika tidak ada suatu makhluk sedang mengawasi/merekam tingkah laku kita dan kemudian memutuskan/melaksanakan nasib kekal kita, maka bagaimana hal seperti itu dapat terjadi?
Mungkin kita hanya hidup kembali dan hidup lagi dan begitu lagi. Mungkin kita menjelma lagi. Mungkin ruh kita mati apabila kita sangat lemah untuk hidup setelah mati. Mungkin kita harus menghabiskan keabadian kita terperangkap dalam pemikiran yang kita ciptakan ketika kita masih hidup. Mungkin alam semesta ini menciptakan satu makhluk setengah dewa untuk merekam perbutatan-perbuatan kita dan akan dipakai untuk mengadili kita. Mungkin hanya ada satu orang di dalam alam semesta ini dan anda harus merasakan hidup dari pandangan setiap orang yang lain satu demi satu, sehingga kita tidak dikasihi/dikutuk untuk kelakuan cara kita memperlakukan satu dengan lainnya. Mungkin hanya ada satu orang di dalam alam semesta dan setiap orang hanyalah dengan satu mata yang menutup ketika badan itu meninggal. Yang mana saja dari pemaparan itu hanya sepertinya seperti yang lainnya karena tidak ada bukti dalam alam semsta ini untuk mendukung bagaimana kehidupan akhirat nanti bekerja.
Di satu pihak, ini merupakan bukti bahwa betul-betul tidak ada suatu kehidupan akhirat untuk dikhawatirkan, tetapi di lain pehak, semua itu adalah sama, jalur yang paling aman adalah mengasumsikan adanya kehidupan akhirat yang mana kita akan diadili. Di dalam menenentukan apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita masih di sini dengan menentukan apa arti kehidupan ini.
Ketika anda menanyakan, "Apa arti dari hidup ini?" Perhatikan bahwa anda tidak sedang menanyakan apakah arti kehidupan manusia. Secara gramatika anda bertanya mengapa semua kehidupan ini ada. Dari pandangan ini kita tidak berada "di atas" setiap bentuk kehidupan yang lain. Yang terbaik kita dapat mengatakan tentang kita sendiri adalah kita lebih kompleks dari yang lainnya. Semua hal yang hidup, semua hal yang mati, jika suatu benda hidup memiliki ruh, maka semua yang hidup memiliki ruh. Jika takdir kita adalah sama seperti tumbuhan dan hewan lalu kewajiban kita akan sama juga.
Yang paling baik bagi tumbuhan atau hewan dapat beraspirasi untuk melakukan tumbuh terhadap potensi penuhnya. Hal yang sama adalah begitu juga bagi kita. Perbedaan antara kita dan seluruh keluarga tumbuhan dan hewan adalah bahwa kita mempunyai kewajiban untuk memenuhi potensi akal kita dan juga potensi fisik kita.
Adapun aturan moralitas kita harus mengikuti (tak terkecuali apakah mereka mempunyai suatu akibat pada kehidupan akhirat), jika seluruh alam semesta beroperasi sesuai dengan matematika, maka demikian juga kita. Ini berarti semua kode moral harus didasarkan pada logika, dan untuk menjadi bermoral anda membutuhkan untuk mengembangkan kemampuan anda untuk sebab. Jika anda mengikuti pada suatu aturan secara membabi buta tanpa masuk dalam kesimpulan-kesimpulan itu secara logis, maka anda mungkin beradu untung dengan nasib ruh anda. Plus, anda menjadikan diri anda sendiri satu budak terhadap peraturan-peraturan itu dan terhadap orang yang memberi anda peraturan-peraturan itu, dan anda tidak diberi kehidupan ini untuk menjadi budak kemauan orang lain. Ini suatu sampah potensi anda dan mungkin bahkan mengerdilkan pertumbuhan ruh anda untuk mepebesar yang mana ini akan menjadi cukup kuat untuk hidup setelah mati. Itu atau anda mungkin tidak menginginkan untuk hidup setelah kematian.
"Dalam kematian, aku dilahirhan" (Pepatah Orang Asli Amerika)
Jika kita dapat mempercayai tenaga alam semesta yang cukup kuat yang tidak disadari untuk memberikan kehidupan dan mengambilnya kembali, maka beralasan mengasumsikan bahwa suatu tenaga yang cukup kuat alam semesta yang tidak disadari dapat memberi kita suatu kehidupan akhirat, dan itu dapat diperdebatkan bahwa seharusnya ada kehidupan akhirat sebab suatu kehidupan fana adalah suatu pemborosan potensi. Ini memerlukan bertrilyun-trilyun tahun untuk kehidupan dunia muncul di Bumi, dan seseorang hanya dapat hidup kira-kira seratus tahun? Analisa keuntungan nampaknya tidak bertambah. Dari pandangan ini suatu kehidupan fana adalah suatu pemborosan potensi dan ini membuat lebih masuk akal bahwa seharusnya memang ada kehidupan akhirat.
Sementara ada tentunya yang logis di belakang ide ini akan tetapi tidak ada bukti empiris untuk mendukungnya. Bagaimanapun, mungkin ada bukti yang besifat tidak langsung dalam alam semesta untuk mendukung bahwa kehidupan akhirat itu ada.
Jika alam semesta ini dimulai pada waktu awal tertentu, maka pernah ada suatu waktu ketika tidak ada fisik materi tetapi ada kekuatan siluman cukup nyata dan cukup besar untuk melahirkan fisik alam semeasta menjadi eksis. Bahkan jika alam semesta telah ada secara abadi masih ada hukum-hukum tak berwujud yang mengendalikan tingkah laku alam semesta. Ada tangan tersembunyi sedang bekerja. Tidak ada perkataan apa yang lain adalah nyata yang tidak dapat kita lihat.
Kemungkinan argumentasi yang paling kuat untuk suatu kepercayaan alam akhirat adalah bahwa materi/energgi tidak dapat diciptakan atau dihilangkan tetapi hanya berubah bentuk saja. Jika itu benar, lalu, maka pintu dapat mengayun ke dua arah juga. Jika kita meninggal hidup kita tidak hilang tetapi hanya berubah bentuk.
Sementara ada argumentasi logis tentang eksistensi alam akhirat tetapi tidak ada argumentasi logis seperti apa kehidupan akhirat nantinya. Tidak ada jalan yang menyimpulkan jika kita akan dapat mengingat siapa kita, jika kita memiliki badan, jika kita akan mempunyai sayap, jika kita akan mempunyai kelamin, jika keluarga kita akan bersama kita, jika kita akan menjelma, dan lain sebagainya. Ini mengajak berspekulasi tentang bayangan atau spekulasi yang demikian, akan tetapi kita harus jujur dengan diri kita sendiri. Kita jelasnya tidak dapat mengetahui, dan bahkan apapun kecilnya kita menyimpulkan adalah tetap murni merupakan spekulasi teori.
KURSI KOSONG PENGADILAN
Yang paling buruk dari semua itu, kita tidak mengetahui jika kita akan diadili untuk hal-hal yang pernah kita lakukan di dalam kehidupan dunia fana kita. Permasalahan yang ada dengan hal itu hanyalah...jika tidak ada suatu makhluk sedang mengawasi/merekam tingkah laku kita dan kemudian memutuskan/melaksanakan nasib kekal kita, maka bagaimana hal seperti itu dapat terjadi?
Mungkin kita hanya hidup kembali dan hidup lagi dan begitu lagi. Mungkin kita menjelma lagi. Mungkin ruh kita mati apabila kita sangat lemah untuk hidup setelah mati. Mungkin kita harus menghabiskan keabadian kita terperangkap dalam pemikiran yang kita ciptakan ketika kita masih hidup. Mungkin alam semesta ini menciptakan satu makhluk setengah dewa untuk merekam perbutatan-perbuatan kita dan akan dipakai untuk mengadili kita. Mungkin hanya ada satu orang di dalam alam semesta ini dan anda harus merasakan hidup dari pandangan setiap orang yang lain satu demi satu, sehingga kita tidak dikasihi/dikutuk untuk kelakuan cara kita memperlakukan satu dengan lainnya. Mungkin hanya ada satu orang di dalam alam semesta dan setiap orang hanyalah dengan satu mata yang menutup ketika badan itu meninggal. Yang mana saja dari pemaparan itu hanya sepertinya seperti yang lainnya karena tidak ada bukti dalam alam semsta ini untuk mendukung bagaimana kehidupan akhirat nanti bekerja.
Di satu pihak, ini merupakan bukti bahwa betul-betul tidak ada suatu kehidupan akhirat untuk dikhawatirkan, tetapi di lain pehak, semua itu adalah sama, jalur yang paling aman adalah mengasumsikan adanya kehidupan akhirat yang mana kita akan diadili. Di dalam menenentukan apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita masih di sini dengan menentukan apa arti kehidupan ini.
Ketika anda menanyakan, "Apa arti dari hidup ini?" Perhatikan bahwa anda tidak sedang menanyakan apakah arti kehidupan manusia. Secara gramatika anda bertanya mengapa semua kehidupan ini ada. Dari pandangan ini kita tidak berada "di atas" setiap bentuk kehidupan yang lain. Yang terbaik kita dapat mengatakan tentang kita sendiri adalah kita lebih kompleks dari yang lainnya. Semua hal yang hidup, semua hal yang mati, jika suatu benda hidup memiliki ruh, maka semua yang hidup memiliki ruh. Jika takdir kita adalah sama seperti tumbuhan dan hewan lalu kewajiban kita akan sama juga.
Yang paling baik bagi tumbuhan atau hewan dapat beraspirasi untuk melakukan tumbuh terhadap potensi penuhnya. Hal yang sama adalah begitu juga bagi kita. Perbedaan antara kita dan seluruh keluarga tumbuhan dan hewan adalah bahwa kita mempunyai kewajiban untuk memenuhi potensi akal kita dan juga potensi fisik kita.
Adapun aturan moralitas kita harus mengikuti (tak terkecuali apakah mereka mempunyai suatu akibat pada kehidupan akhirat), jika seluruh alam semesta beroperasi sesuai dengan matematika, maka demikian juga kita. Ini berarti semua kode moral harus didasarkan pada logika, dan untuk menjadi bermoral anda membutuhkan untuk mengembangkan kemampuan anda untuk sebab. Jika anda mengikuti pada suatu aturan secara membabi buta tanpa masuk dalam kesimpulan-kesimpulan itu secara logis, maka anda mungkin beradu untung dengan nasib ruh anda. Plus, anda menjadikan diri anda sendiri satu budak terhadap peraturan-peraturan itu dan terhadap orang yang memberi anda peraturan-peraturan itu, dan anda tidak diberi kehidupan ini untuk menjadi budak kemauan orang lain. Ini suatu sampah potensi anda dan mungkin bahkan mengerdilkan pertumbuhan ruh anda untuk mepebesar yang mana ini akan menjadi cukup kuat untuk hidup setelah mati. Itu atau anda mungkin tidak menginginkan untuk hidup setelah kematian.
Comments
Post a Comment