ARTI HIDUP - Bagian 5: Bagaimana Jika Tuhan Tidak Ada dan Kehidupan Akhirat Tidak Ada?
BAGIAN 5:
BAGAIMANA APABILA TUHAN TIDAK ADA DAN KEHIDUPAN AKHIRAT TIDAK ADA
"Saya tidak pernah melihat sedikitpun bukti secara ilmiah dari teori-teori agama-agama tentang surga dan neraka, tentang kehidupan masa depan bagi setiap orang, atau dari Tuhan pribadi" (Thomas Edison).
"Saya akan suka untuk mempercayai bahwa ketika saya meninggal saya akan hidup lagi, itu beberapa pemikiran, perasaan, pengingatan bahwa bagian dari ku akan berlanjut. Tetapi sebesar saya ingin mempercayai tentang hal itu, dan meskipun tradisi budaya kuno dan dunia yang menyatakan tentang suatu kehidupan akhirat, saya tidak mengetahui apapun untuk memberi saran bahwa hal itu adalah tidak lebih daripada suatu angan-angan" (Carl Sagan)
Adalah logis bahwa Tuhan tidak pernah ada sebab tidak ada bukti dari keberadaan-Nya. Itu juga logis mempercayai tidak ada kehidupan akhirat dengan alasan yang sama: disebabkan tidak ada bukti juga. Ataupun adakah bukti eksistensi dari suatu ruh yang dapat hidup dalam kematian atau apa saja mengenai alam semesta alternatip spiritual bagi ruh untuk bersemayam.
Beberapa orang mengatakan bahwa tidak adanya bukti bukan berarti sesuatu itu tidak benar. Itu belum tentu, akan tetapi hal itu bukan masalahnya, sebab dalam hal ini sebenarnya ada bukti secara tidak langsung dalam fisik alam semesta yang mengindikasikan tidak adanya suatu kehidupan akhirat.
Filosof China kuno mencatat bahwa alam dunia (juga pengalaman manusia) dapat dibagi ke dalan dua sisi, Yin dan Yan. Kegelapan dan Cahaya. Baik dan Buruk. Penciptaan dan Perusakan, dan seterusnya dan seterusnya.
Demikian juga, ilmuwan moderen telah menemukan materi dan antimateri serta elektron bermuatan negatip dan proton bermuatan positip. Suatu benda apakah dalam keadaan bergerak atau diam. Program komputer didasarkan pada konsep bahwa suatu perangkat adalah On atau Off, dan setiap benda yang bergetar seperti yang anda saksikan di dalam telivisi, mendengarkan radio, atau melihat sesuatu di internet dapat diperkecil terhadap satu aliran dari "1" dan "0" atau "on" dan "off". Semuanya apakah dalam keadaan entropi/kacau atau keadaan seimbang. Yang mana saja, hasil akhirnya adalah sama: akhirnya berada pada satu sisi dari spektrum. Jika kita pakai konsep ini terhadap kehidupan dan kematian kita dapat melihat suatu alasan yang menarik bahwa dalam alam semesta macam ini anda apakah hidup atau mati.
"Saya akan suka untuk mempercayai bahwa ketika saya meninggal saya akan hidup lagi, itu beberapa pemikiran, perasaan, pengingatan bahwa bagian dari ku akan berlanjut. Tetapi sebesar saya ingin mempercayai tentang hal itu, dan meskipun tradisi budaya kuno dan dunia yang menyatakan tentang suatu kehidupan akhirat, saya tidak mengetahui apapun untuk memberi saran bahwa hal itu adalah tidak lebih daripada suatu angan-angan" (Carl Sagan)
Adalah logis bahwa Tuhan tidak pernah ada sebab tidak ada bukti dari keberadaan-Nya. Itu juga logis mempercayai tidak ada kehidupan akhirat dengan alasan yang sama: disebabkan tidak ada bukti juga. Ataupun adakah bukti eksistensi dari suatu ruh yang dapat hidup dalam kematian atau apa saja mengenai alam semesta alternatip spiritual bagi ruh untuk bersemayam.
Beberapa orang mengatakan bahwa tidak adanya bukti bukan berarti sesuatu itu tidak benar. Itu belum tentu, akan tetapi hal itu bukan masalahnya, sebab dalam hal ini sebenarnya ada bukti secara tidak langsung dalam fisik alam semesta yang mengindikasikan tidak adanya suatu kehidupan akhirat.
Filosof China kuno mencatat bahwa alam dunia (juga pengalaman manusia) dapat dibagi ke dalan dua sisi, Yin dan Yan. Kegelapan dan Cahaya. Baik dan Buruk. Penciptaan dan Perusakan, dan seterusnya dan seterusnya.
Demikian juga, ilmuwan moderen telah menemukan materi dan antimateri serta elektron bermuatan negatip dan proton bermuatan positip. Suatu benda apakah dalam keadaan bergerak atau diam. Program komputer didasarkan pada konsep bahwa suatu perangkat adalah On atau Off, dan setiap benda yang bergetar seperti yang anda saksikan di dalam telivisi, mendengarkan radio, atau melihat sesuatu di internet dapat diperkecil terhadap satu aliran dari "1" dan "0" atau "on" dan "off". Semuanya apakah dalam keadaan entropi/kacau atau keadaan seimbang. Yang mana saja, hasil akhirnya adalah sama: akhirnya berada pada satu sisi dari spektrum. Jika kita pakai konsep ini terhadap kehidupan dan kematian kita dapat melihat suatu alasan yang menarik bahwa dalam alam semesta macam ini anda apakah hidup atau mati.
TANPA SAKIT TANPA KEUNTUNGAN
Tetapi mengapa memberi kita kehidupan lalu merebutnya dari kita setelah dalam genggaman selama bertahun-tahun? Jawabannya adalah sederhana dan ilmiah. Kematian adalah penting untuk membuat ruang bagi keturunan agar tumbuh dan berkembang. Jika tidak pernah ada kematian nenek moyang anda akan tetap di sini dan anda tidak akan di sini. Mengharapkan umur lebih panjang adalah mementingkan diri sendiri (egois). Anda akan meninggal dunia untuk kebaikan yang lebih besar. Hadapilah tentang itu.
MEMAINKAN TANGAN YANG TELAH ANDA MENANGKAN
Tidak perduli terhadap fakta kenyataan apakah ada atau tidak tentang akhirat, kita harus hidup pada kehidupan sebagaimana tidak ada akhirat, sebab hal ini akan menjadi tidak aman mengasumsikan bahwa kehidupan akhirat itu ada. Mengasumsikan adanya kehidupan akhirat membuat kita menjadi merasa puas. Adanya kehidupan akhirat memberi kita suatu alasan untuk menunda kehidupan ini sampai setelah kita mati. Itu lebih logis menyalahkan pada suatu sisi penyebab dan dengan mengasumsikan bahwa kita hanya memiliki waktu yang pendek untuk hidup. Cara itu menjadikan kita termotifasi untuk membuat yang terbaik pada kehidupan. Untuk itu, apa yang seharusnya benar-benar mengkhawatirkan kita adalah apa yang akan kita lakukan dengan waktu yang kita miliki di sini dan sekarang.
Akan tetapi mengapa melakukan sesuatu? Jika kita semua akan mati bagaimanapun itu, apakah ini bermasalah dengan apa yang kita lakukan terhadap waktu kita? Mengapa kita tidak hanya menghabiskan seluruh hidup kita pada kesengsaraan eksistensial kita dalam minuman keras dan memasukkan diri kita sendiri dengan kesenangan raga ini sampai kejadian fatal ketika sandiwara kejam, tanpa makna ini akhirnya berakhir?
Sebenarnya sda suatu alasan logis mengapa. Faktanya bahwa kita semua sendirian di dalam alam semesta ini. Dan hanya mempunyai sedikit waktu untuk hidup apakah menjadi orang yang paling buruk atau yang paling fantastik yang pernah anda dengar yang tergantung bagaimana anda memandang terhadapnya. Di satu pihak, hidup sekilas ini berarti kita semua berada pada antrian menunggu kematian dan tidak ada tindakan yang kita lakukan yang berarti untuk jangka panjang, akan tetapi hidup tampaknya akan hanya sia-sia apabila kita asumsikan bahwa hidup ini sebagai alat untuk mencapai kematian. Tetapi bagaimana apabila hidup anda bukan suatu alat untuk tujuan kematian? Bagaimana jika hidup anda dijastifikasi karena itu adalah kematian itu sendiri?
Melalui anda alam semesta ini memberi dirinya sendiri kesadaran dan suatu badan untuk merasakan dan menikmati hidup. Semua yang terjadi sampai pada titik ini dapat menjadi suatu alat untuk kematian itu. Itu akan berarti bahwa, jika anda bertanya pada diri anda sendiri, "Bagaimanakah saya akan mengisi arti dari hidup ini?" Anda sedang tidak menanyakan itu sebagai seseorang yang pernah hidup kurang dari seratus tahun. Anda sedang bertanya sebagai mata dan telinga dari alam semesta ini. Dari pandangan di titik ini anda secara pribadi telah sedang bekerja untuk pemenuhan arti dari hidup sejak sebelum Big Bang, selama pendinginan galaksi-galaksi dan pembentukan/evolusi kehidupan ini. Sederhananya, dengan terlahirnya anda, anda telah melakukan pemenuhan arti hidup sebesar 99%. Anda akan mengisi yang 1% lainnya dengan setiap nafas yang anda lakukan, sebab pada umumnya arti hidup ini bagi anda adalah menjadi hidup dan eksistensi pengalaman. Ini berarti anda tidak perlu harus menunggu sampai anda diwisuda, mendapatkan suatu karir, kawin, mempunnyai anak, pensiun, merubah dunia, mewarnai karya besar anda, atau mati sebelum hidup anda memiliki arti. Anda di sana sekarang.
Hanya ada satu hal kecil tertinggal untuk dikerjakan: jadilah sebagaimana anda. Jika anda merupakan wujud alam semesta, dan anda telah menciptakan anda untuk anda, maka anda tidak menciptakan diri anda sendiri untuk duduk tidak melakukan apa-apa sampai anda meninggal atau melayani setiap penguasa dari luar (itu seperti orang, pemerintah, budaya, idiologi, atau dewa) untuk sementara waktu. Anda meletakkan diri anda sendiri di sini untuk menjadi orang yang khusus dan melakukan kebebasan sesuai keinginan anda untuk memilih apa yang anda inginkan dan lakukan...dengan memungkinkan beberapa pengecualian.
Pertama, melukai makluk lain dari alam semesta ini akan melawan atau bertentangan dengan semua kerja yang telah anda lakukan dalam membawa kehidupan ke dalam eksistensinya. Kedua, jika anda memilih untuk tidak menentukan diri anda sendiri atau keinginan-keinginan anda, maka telah ada maksud kecil dalam diri anda ketika dilahirkan itu yang urtama. Akhirnya, jika anda mengijinkan orang lain menentukan identitas anda dan keinginan-keinginan anda, maka kemauan bebas anda akan menjadi sia-sia.
Didalam membuat eksistensi anda yang tertinggi, anda butuh untuk menjadi diri anda sepenuh mungkin. Psikolog menamakan keberhasilan ini sebagai aktualisasi diri. Para filosof menamakannya kesempurnaan. Orang tua asuh menyebutnya tumbuh menjadi dewasa. Dan konsep ini tidak hanya berlaku pada manusia. Ini berlaku terhadap semua kehidupan. Apakah pencapaian tumbuh-tumbuhan dalam kehidupannya tetapi tumbuh untuk memenuhi potensinya sebagai tumbuh-tumbuhan? Hewan juga demikian. Perbedaan antara makhluk adalah demikian seperti kita dan setiap makhluk hidup lain yang kita dapat ketahui adalah, kita dapat memilih potensi apa itu dan bagaimana sulitnya kita menginginkan untuk mencapainya.
Comments
Post a Comment