ARTI HIDUP - Bagian - 2: Kisah Anak-anak Kita
BAGIAN 2:
KISAH ANAK-ANAK KITA
"Sesungguhnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi atau Majusi" (Hadist diriwayatkan oleh Bukhari).
Bagi Chloe, mencari tau sesuatu yang baru tentang dunia yang luar biasa besar, misterius di mana kita hidup adalah sesuatu yang sama senangnya seperti menemukan buah catur harta karun yang terpendam, tetapi dengan dia itu tidak cukup hanya menemukan sesuatu yang baru. Dia ingin untuk mengetahui temuannya. Salah satu dari permainan yang paling ia sukai adalah menanyaiku suatu pertanyaan, dan setelah saya berikan jawaban dia bertanya lagi dengan kata, "Mengapa?" Kemudian setelah saya menerangkan jawabannya dia secara otomatis bertanya lagi, "Mengapa?", dan rengekannya akan berlanjut terus seperti itu sampai saya kehabisan jawaban atau kembali diriku pada pernyataan yang berputar-putar... pada titik mana dia akan menjadi tertawa lebih terbahak-bahak.
Dalam retrospeksi saya menjadi percaya bahwa berdasarkan pada perilaku kebiasaanya cerita berikutnya adalah kemungkinan tidak dapat terelakkan. Jika itu tidak terjadi ketika itu terjadi saya membayangkan akhirnya akan harus terjadi, tetapi sebagaimana itu terjadi, itu terjadi pada awal musim semi ketika ia berusia 6 tahun.
Bulan April telah tiba, dan saat itu akhirnya cukup hangat untuk keluar dari bulan-bulan panjang tahanan rumah karena musim dingin yang telah menghukum kami. Maka saya bawa Chloe ke suatu taman ujung dari tetangga kami untuk bermain di luar.
Saya tidak merasa terkejut ketika ia menghabiskan banyak waktunya pada tempat bermain mempermainkan pucuk-pucuk tanaman baru dan memperhatikan kupu-kupu mengumpulkan minuman sangat lezat (sari) sebagai pengganti bergelantungan pada balok monyet dengan gadis kecil lainnya, dan sebagaimana aku awasi pada penjelajahannya menjadikan aku sentimentil tentang hari-hari waktu aku kecil ketika aku temukan banyak perasaan mempesona dalam sesuatu yang paling sederhana, ekspresi alam yang paling biasa. Jadi aku sedang sedikit melamun ketika Chloe mendekati ku dengan tampilan rupa seorang anak ketika mereka sedang meniru orang dewasa dalam momok sedang serius.
"Ayah?" Dia berkata dengan memakai nada seperti istriku ketika aku dalam kesulitan.
"Apa, sayang?" Aku menjawab tanpa pikir.
"Aku berhenti saja." Dia membentak, melempar tangannya ke udara dan membiarkan tangannya terjatuh kembali menepuk sisi-sisinya.
"Apakah kamu ingin berhenti bermain?" Sambil mencurigai itu bukanlah di mana dia sedang akan membahas dengan topik ini.
Tanpa perduli bahwa aku sudah mengatakan sesuatu dia melanjutkan, "Aku tidak mendapatkannya. Apa yang orang-orang lakukan?"
"Apa maksud mu, sayang?" Sekarang aku yakin bahwa aku tidak mengetahui di mana arah percakapan yang sedang berlangsung sekarang ini.
"Baik, Tuan Tumbuhan tumbuh seperti Tuan Pencakar Langit. Tuan Kupu-kupu bekerja seperti kamu. Dan Tuan dan Nyonya Burung memberi makan anak-anak mereka sama seperti orang-orang, sehingga anak mereka dapat tumbuh besar dan kuat dan mempunyai anak-anak milik mereka sendiri. Maksudku, setiap orang mengerjakan sesuatu. Maksudku... Kamu tahu? Untuk apa?"
Sejujurnya, semua yang dapat aku pikirkan adalah, "aku sedang tidak membiayai mu untuk mendapatkan suatu kesarjaan di bidang ilmu philosofi." Tetapi sebagaimana dia berdiri di situ dengan kedua tangannya terletak pada pinggangnya menunggu ku aku sadar bahwa dia tidak akan beranjak kemana-mana sampai aku memberi dia perhatian penuhku dan menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu apakah yang dia harapkan dari ku dengan perkataan yang demikian. Kita semua hanya mencoba untuk bertahan dan menjadikan sebagian dari hidup. Itu semua ada untuk itu, dan aku telah mencoba untuk menerangkan itu kepada nya, tetapi itu tidak membuatnya puas samasekali.
"Tapi mengapaaaa?" dia menggerang, membungkukkan maju dalam sikap memohon. Lalu sebagaimana pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya, dan dia tersentak kembali tegak dan menambahkan masalah pencekik bahkan, "Tuhan mempunyai alasan."
Sebelum saya melanjutkan cerita berikutnya saya perlu mengklarifikasikan bahwa untuk sejumlah sebab saya tidak pernah mengajari Chloe tentang Tuhan, tetapi istri saya dan saya telah sampai pada suatu kompromi terhadap suatu subjek. Kami biarkan Chloe memiliki kesimpulannya sendiri, dan jika ia pernah menanyai kita apakah kita mempercayai-Nya kami akan mengatakan kepadanya dengan jalan tanpa tekanan. Tentu, anak-anak tidak harus menghabiskan waktu lama dalam hidup ini untuk mempelajari tentang Tuhan dari seseorang. Jadi di sanalah kami.
Saya merasa bersalah tentang apa yang saya lakukan berikutnya, tetapi karena saya tidak memperkirakan ini adalah waktunya untuk melakukan percakapan tentang Tuhan dengan dia dan saya tidak memiliki satu jawaban untuk mengapa Tuhan telah menciptakan kita semua, yang saya dapat lakukan adalah menghindar dari subjeknya. Sehingga saya berbohong dan mengatakan pada dia tentang suatu secara bijaksana, suara yang jauh, "Tuhan bekerja dengan cara yang misterius,"
Lalu, berkata kepada saya seperti saya berumur 6 tahun dia bilang, "Jadi kamu tidak tau apa yang seharusnya kita lakukan? Jadi bagaimana kamu mengetahui apa....lakukan apa yang seharusnya diselesaikan? Maksud ku, bukankah kalian akan mendapatkan masalah jika kalian tidak melakukannya?
Chloe tetap berdiri di situ menunggu sedikit kata berikutnya dari ku kebijaksanaan waktu-diuji, tetapi dia membaca ekspresi kosong di wajah ku sebelum saya dapat menjawab dengan mulutku. Dia dapat mengatakan dia telah membingungkan saya. Jadi, mendapati saya diam dia mengangkat tangannya ke atas lagi dan menjatuhkan kembali ke arah rumput mencari petunjuk lebih lanjut dengan caranya sendiri.
Sebentar kemudian saya mencoba percakapan tanpa tertawa sebagaimana satu hal "yang paling menusuk" dari kata-kata seorang anak, tetapi saya harus memikirkan tentang itu dan menyadari dia memiliki satu titik nyata yang menakutkan. Dipastikan, cara yang ia katakan itu adalah kekanak-kanakan, tetapi idenya sendiri memiliki kepantasan. Apa yang ingin ia katakan adalah bahwa jika kita tidak mengetahui arti hidup, maka bagaimana kita bisa yakin bahwa kita sedang mengisinya?
"Sekarang ada satu fakta luarbiasa penting tentang Kendaraan Luar Angkasa, Bumi, dan itu adalah tidak ada buku penuntun ikut bersamanya" (Buckminster Fuller).
"Anak adalah semua orang asing" (Ralph Waldo Emerson).
"Anda adalah haluan dari mana anak anda sebagai anak panah hidup yang diutus" (Kahlil Gibran).
Cara yang paling efisien dan terpercaya untuk membuat kue, memperbaiki mobil, membikin sebuah perabotan, menulis program komputer, belajar suatu alat musik, menerbitkan sebuah buku, memulai suatu bisnis. atau melakukan sesuatu yang lain dalam hidup ini dengan mengikuti instruksi-instruksi yang ditulis lebih dahulu, logis, sistimatis, teruji secara empiris dan terbukti. Kehidupan tidaklah rumit. Bahkan hal itu di luar kebiasaan; kehidupan hanya terjadi tanpa ucapan atau instruksi, ini sungguh benar!.
Apabila itu demikian jelas bahwa anda membutuhkan petunjuk agar berhasil untuk menempuh kehidupan di dunia. Dalam mengerjakan tugas anda sehari-hari, maka hal itu seharusnya semuanya lebih jelas bahwa anda memerlukan instruksi-instruksi yang logis, sistematis, terumus benar tentang hidup agar berhasil dalam kehidupan ini. Akan tetapi, apakah orang tua anda memberikan buku petunjuk tentang kehidupan ini? Hampir dipastikan bahwa semua orang tidak menerimanya. Dapat dipastikan bahwa hampir semua anak dipaksa keluar dari sarangnya ke suatu dunia yang keras, tak kenal ampun hanya dengan dibekali dengan sedikit lebih daripada beberapa nasehat yang tersebar. Dan dengan tidak memberikan anak suatu buku petunjuk yang lengkap, logis, sistematis, dan terumus benar tentang kehidupan, tak terhitung bila bukan orang tua dengan niat baik dan cinta telah menghukum anak mereka untuk mengembara di sepanjang hidupnya tanpa persiapan dan berusaha ke arah tanpa tujuan akhir yang berarti.
Inikah kehidupan yang seharusnya? Apakah memungkinkan membuat buku petunjuk tentang kehidupan? Adakah satu tujuan tunggal yang dapat mendifinisikan terhadap kehidupan ini, sehingga seseorang dapat mencapai keberhasilan atau kegagalan? Adakah cara yang benar untuk mengarungi kehidupan ini? Atau apakah kehidupan ini tanpa tujuan dan semua yang kita lakukan adalah tanpa makna? Akankah ini dapat berarti tidak ada bedanya jika kita tidak pernah dilahirkan? Apakah "Kehidupan adalah sesuatu yang menyebalkan lalu anda mati" hanyalah pelajaran hidup yang kita butuhkan untuk mengajari anak kita?
Saya ingin mengatakan kepada anda suatu cerita mengapa saya memulai menanyakan diri saya sendiri pertanyaan-pertanyaan ini dan jawaban seperti apa yang saya dapati setelah mencarinya selama separuh dari kehidupanku ini. Tetapi jangan khawatir; Saya tidak membutuhkan banyak waktu untuk menulis semua ini sebab saya mengharapkan anda akan mati mendengarkan setiap kisah detail tentang kehidupan pribadi saya. Anda akan lega mengetahui bahwa saya telah memangkas sebanyak mungkin detail tentang kehidupan pribadi saya, sehingga anda masih mempunyai cerita yang masuk akal.
Saya berbagi cerita ini sebab ini menusuk inti keberadaan manusia dan arti dari kehidupan. Anda adalah manusia dan anda hidup. Dengan demikian cerita ini merupakan cerita anda juga, dan ini berlaku terhadap segala hal yang telah anda lakukan, semua hal yang sedang anda lakukan, dan semua yang ingin anda capai sebelum anda meninggal dunia.
CERITA TENTANG CLOE
Cerita ini dimulai sejak 12 tahun yang lalu, ketika anak saya, Chloe, berumur 6 tahun. Tentu, seperti setiap orang tua aku bisa kehilangan kesabaran tentang anakku sepanjang hari, tetapi untuk topik yang ada di tangan hanya ada satu hal yang ingin anda ketahui tentang dia pada umur seperti itu. Saya telah menceritakan tentang hal ini kepada benyak teman, dan saya akan menceritakannya kepada anda sekarang dalam kata-kata yang sama; Jika ada sebuah penghargaan untuk anak 6 tahun tentang keingin tahuan di dunia, dia akan sudah masuk sebagai finalis...jika bukan sebagai pemenang utamanya.
Ini sebenarnya masalah harga diri bagi diriku, tetapi ini terkadang berada pada sisi baliknya. Saya harus mengawasi secara ketat terhadapnya ketika ia keluar di tempat umum sebab dia terus-menerus berjalan melalui pintu-pintu yang bertuliskan "PRIBADI", berbicara kepada orang yang tidak dikenal, mengangkat bantal-bantal teman kami untuk melihat apa yang terselip di antara bantal-bantal itu, dan terkadang, membuka paket yang terlihat menarik pada toko kelontong untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
Bagi Chloe, mencari tau sesuatu yang baru tentang dunia yang luar biasa besar, misterius di mana kita hidup adalah sesuatu yang sama senangnya seperti menemukan buah catur harta karun yang terpendam, tetapi dengan dia itu tidak cukup hanya menemukan sesuatu yang baru. Dia ingin untuk mengetahui temuannya. Salah satu dari permainan yang paling ia sukai adalah menanyaiku suatu pertanyaan, dan setelah saya berikan jawaban dia bertanya lagi dengan kata, "Mengapa?" Kemudian setelah saya menerangkan jawabannya dia secara otomatis bertanya lagi, "Mengapa?", dan rengekannya akan berlanjut terus seperti itu sampai saya kehabisan jawaban atau kembali diriku pada pernyataan yang berputar-putar... pada titik mana dia akan menjadi tertawa lebih terbahak-bahak.
Dalam retrospeksi saya menjadi percaya bahwa berdasarkan pada perilaku kebiasaanya cerita berikutnya adalah kemungkinan tidak dapat terelakkan. Jika itu tidak terjadi ketika itu terjadi saya membayangkan akhirnya akan harus terjadi, tetapi sebagaimana itu terjadi, itu terjadi pada awal musim semi ketika ia berusia 6 tahun.
Bulan April telah tiba, dan saat itu akhirnya cukup hangat untuk keluar dari bulan-bulan panjang tahanan rumah karena musim dingin yang telah menghukum kami. Maka saya bawa Chloe ke suatu taman ujung dari tetangga kami untuk bermain di luar.
Saya tidak merasa terkejut ketika ia menghabiskan banyak waktunya pada tempat bermain mempermainkan pucuk-pucuk tanaman baru dan memperhatikan kupu-kupu mengumpulkan minuman sangat lezat (sari) sebagai pengganti bergelantungan pada balok monyet dengan gadis kecil lainnya, dan sebagaimana aku awasi pada penjelajahannya menjadikan aku sentimentil tentang hari-hari waktu aku kecil ketika aku temukan banyak perasaan mempesona dalam sesuatu yang paling sederhana, ekspresi alam yang paling biasa. Jadi aku sedang sedikit melamun ketika Chloe mendekati ku dengan tampilan rupa seorang anak ketika mereka sedang meniru orang dewasa dalam momok sedang serius.
"Ayah?" Dia berkata dengan memakai nada seperti istriku ketika aku dalam kesulitan.
"Apa, sayang?" Aku menjawab tanpa pikir.
"Aku berhenti saja." Dia membentak, melempar tangannya ke udara dan membiarkan tangannya terjatuh kembali menepuk sisi-sisinya.
"Apakah kamu ingin berhenti bermain?" Sambil mencurigai itu bukanlah di mana dia sedang akan membahas dengan topik ini.
Tanpa perduli bahwa aku sudah mengatakan sesuatu dia melanjutkan, "Aku tidak mendapatkannya. Apa yang orang-orang lakukan?"
"Apa maksud mu, sayang?" Sekarang aku yakin bahwa aku tidak mengetahui di mana arah percakapan yang sedang berlangsung sekarang ini.
"Baik, Tuan Tumbuhan tumbuh seperti Tuan Pencakar Langit. Tuan Kupu-kupu bekerja seperti kamu. Dan Tuan dan Nyonya Burung memberi makan anak-anak mereka sama seperti orang-orang, sehingga anak mereka dapat tumbuh besar dan kuat dan mempunyai anak-anak milik mereka sendiri. Maksudku, setiap orang mengerjakan sesuatu. Maksudku... Kamu tahu? Untuk apa?"
Sejujurnya, semua yang dapat aku pikirkan adalah, "aku sedang tidak membiayai mu untuk mendapatkan suatu kesarjaan di bidang ilmu philosofi." Tetapi sebagaimana dia berdiri di situ dengan kedua tangannya terletak pada pinggangnya menunggu ku aku sadar bahwa dia tidak akan beranjak kemana-mana sampai aku memberi dia perhatian penuhku dan menjawab pertanyaannya. Aku tidak tahu apakah yang dia harapkan dari ku dengan perkataan yang demikian. Kita semua hanya mencoba untuk bertahan dan menjadikan sebagian dari hidup. Itu semua ada untuk itu, dan aku telah mencoba untuk menerangkan itu kepada nya, tetapi itu tidak membuatnya puas samasekali.
"Tapi mengapaaaa?" dia menggerang, membungkukkan maju dalam sikap memohon. Lalu sebagaimana pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya, dan dia tersentak kembali tegak dan menambahkan masalah pencekik bahkan, "Tuhan mempunyai alasan."
Sebelum saya melanjutkan cerita berikutnya saya perlu mengklarifikasikan bahwa untuk sejumlah sebab saya tidak pernah mengajari Chloe tentang Tuhan, tetapi istri saya dan saya telah sampai pada suatu kompromi terhadap suatu subjek. Kami biarkan Chloe memiliki kesimpulannya sendiri, dan jika ia pernah menanyai kita apakah kita mempercayai-Nya kami akan mengatakan kepadanya dengan jalan tanpa tekanan. Tentu, anak-anak tidak harus menghabiskan waktu lama dalam hidup ini untuk mempelajari tentang Tuhan dari seseorang. Jadi di sanalah kami.
Saya merasa bersalah tentang apa yang saya lakukan berikutnya, tetapi karena saya tidak memperkirakan ini adalah waktunya untuk melakukan percakapan tentang Tuhan dengan dia dan saya tidak memiliki satu jawaban untuk mengapa Tuhan telah menciptakan kita semua, yang saya dapat lakukan adalah menghindar dari subjeknya. Sehingga saya berbohong dan mengatakan pada dia tentang suatu secara bijaksana, suara yang jauh, "Tuhan bekerja dengan cara yang misterius,"
Lalu, berkata kepada saya seperti saya berumur 6 tahun dia bilang, "Jadi kamu tidak tau apa yang seharusnya kita lakukan? Jadi bagaimana kamu mengetahui apa....lakukan apa yang seharusnya diselesaikan? Maksud ku, bukankah kalian akan mendapatkan masalah jika kalian tidak melakukannya?
Chloe tetap berdiri di situ menunggu sedikit kata berikutnya dari ku kebijaksanaan waktu-diuji, tetapi dia membaca ekspresi kosong di wajah ku sebelum saya dapat menjawab dengan mulutku. Dia dapat mengatakan dia telah membingungkan saya. Jadi, mendapati saya diam dia mengangkat tangannya ke atas lagi dan menjatuhkan kembali ke arah rumput mencari petunjuk lebih lanjut dengan caranya sendiri.
Sebentar kemudian saya mencoba percakapan tanpa tertawa sebagaimana satu hal "yang paling menusuk" dari kata-kata seorang anak, tetapi saya harus memikirkan tentang itu dan menyadari dia memiliki satu titik nyata yang menakutkan. Dipastikan, cara yang ia katakan itu adalah kekanak-kanakan, tetapi idenya sendiri memiliki kepantasan. Apa yang ingin ia katakan adalah bahwa jika kita tidak mengetahui arti hidup, maka bagaimana kita bisa yakin bahwa kita sedang mengisinya?
Comments
Post a Comment